Warsito Tegaskan, 1 Hektare Bisa Hasilkan 5–6 Ton, Kilas Balik 1984 Pernah Capai 14 Ton

SRAGEN, Detikpost.id — Persoalan produktivitas pertanian dan kesehatan tanah menjadi perhatian Warsito. Menurutnya, peningkatan hasil pertanian tidak cukup hanya dengan mengandalkan pupuk kimia, tetapi harus diimbangi dengan penggunaan bahan organik, bibit unggul, serta pengelolaan lahan yang tepat.

Warsito mengatakan, saat ini produktivitas padi di sejumlah lahan masih berada pada kisaran 5–6 ton per hektare. Namun, jika melihat kembali pengalaman pertanian pada masa lalu, khususnya sekitar tahun 1984, hasil panen dalam satu hektare disebut pernah mencapai sekitar 14 ton.

Bacaan Lainnya

“Kalau kita melihat kilas balik tahun 1984, hasil panen per hektare pernah mencapai sekitar 14 ton. Sekarang kita banyak menemukan hasil sekitar 5 sampai 6 ton per hektare. Ini harus menjadi bahan evaluasi bersama, bagaimana tanah kita dikelola agar produktivitas pertanian bisa kembali meningkat,” ujar Warsito.

 

Tanah Harus Dijaga

Warsito menilai salah satu hal penting yang harus diperhatikan adalah kondisi tanah. Menurutnya, penggunaan pupuk urea secara terus-menerus tanpa diimbangi bahan organik perlu dievaluasi.

“Tanah kita jangan sampai semakin kehilangan kesuburannya. Penggunaan pupuk kimia harus diimbangi dengan bahan organik. Kalau hanya mengejar produksi tanpa menjaga tanah, dalam jangka panjang kita yang akan mengalami kerugian,” tegasnya.

Baca Juga:  FPLKP Buktikan, Alumni LKP Berkompeten dan Mampu Go Internasional

Ia mencontohkan kondisi pertanian di sejumlah negara yang menurutnya dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia, termasuk Ukraina. Namun, ia menekankan bahwa setiap negara memiliki kondisi tanah, iklim, varietas tanaman, dan sistem pertanian yang berbeda sehingga tidak bisa dibandingkan secara langsung.

Menurut Warsito, kompos dan pupuk organik perlu lebih banyak dimanfaatkan untuk membantu menjaga kandungan bahan organik tanah.

“Supaya tanah tidak cepat rusak dan produksi pertanian tetap maksimal, penggunaan kompos harus ditingkatkan. Pupuk kimia tetap bisa digunakan sesuai kebutuhan tanaman, tetapi jangan melupakan bahan organik,” katanya.

 

Bibit Unggul Jadi Kunci

Warsito juga menilai keberhasilan seorang petani tidak hanya ditentukan oleh pupuk. Faktor pertama yang harus diperhatikan adalah bibit unggul yang sesuai dengan kondisi lahan.

“Untuk menjadi petani yang maksimal, pertama harus memilih bibit yang bagus. Kemudian pupuknya juga harus tepat dan berkualitas. Dengan pengelolaan yang baik, produktivitas tentu bisa meningkat,” jelasnya.

Ia menyebut peningkatan hasil hingga beberapa ton per hektare dapat menjadi target yang perlu diupayakan. Namun, keberhasilan tersebut menurutnya harus dibuktikan melalui praktik di lapangan, karena setiap lahan memiliki karakteristik berbeda.

Selain bibit dan pupuk, faktor lain seperti ketersediaan air, kualitas tanah, jarak tanam, pengendalian hama dan penyakit, serta teknik budidaya juga sangat menentukan hasil panen.

Air Lindi Bisa Dikembangkan sebagai Pupuk : Warsito juga menyoroti potensi air lindi sebagai bahan yang dapat dikembangkan menjadi pupuk atau pembenah tanah.

Baca Juga:  Ketua BRA Aceh Utara Ucapkan Selamat atas Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Aceh Utara

Menurutnya, limbah organik jangan hanya dipandang sebagai sampah. Dengan pengolahan yang tepat, sebagian hasil penguraian bahan organik berpotensi dimanfaatkan kembali dalam sistem pertanian.

“Air lindi bisa menjadi salah satu bahan yang kita kaji untuk pertanian. Tetapi tentu harus melalui proses pengolahan dan pengujian terlebih dahulu. Jangan langsung diberikan ke tanaman tanpa mengetahui kandungan dan keamanannya,” ujarnya.

Ia menegaskan, air lindi dari sampah organik yang terkontrol harus dibedakan dengan lindi dari sampah campuran yang berpotensi mengandung bahan berbahaya.

 

Pertanian Harus Berkelanjutan

Warsito berharap pengembangan pertanian ke depan tidak hanya mengejar jumlah produksi, tetapi juga menjaga kesehatan tanah.

Menurutnya, petani perlu menerapkan pola pertanian yang menggabungkan bibit unggul, pemupukan berimbang, kompos, pengelolaan air, serta teknologi pertanian.

“Jangan hanya berpikir bagaimana hari ini bisa panen banyak. Kita juga harus berpikir bagaimana tanah tetap subur untuk 10, 20 bahkan 50 tahun ke depan. Tanah adalah modal utama petani,” tegas Warsito.

Ia berharap pemerintah, akademisi, penyuluh pertanian, pelaku usaha dan petani dapat bersama-sama melakukan penelitian serta uji lapangan untuk menemukan pola budidaya yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus mempertahankan kesuburan tanah.

“Kalau tanah sehat, bibit bagus, pupuk tepat dan air tersedia, insyaallah produktivitas pertanian bisa maksimal. Pertanian bukan hanya soal panen hari ini, tetapi soal menjaga kehidupan untuk generasi berikutnya,” pungkas Warsito.

 

Sumber : Andrie Tjioe

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *