Kapolres Lhokseumawe Menggalakkan Menanam Pohon Sepanjang Masa: Iman, Iklim, dan Ketahanan Aceh.

Lhokseumawe, ( DetikPost.id ) – Oleh: Prof. Dr. Apridar, S.E., M.Si. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh apridar@usk.ac.id

Perubahan iklim bukan lagi sekadar wacana. Banjir bandang, kekeringan berkepanjangan, suhu kota yang semakin terik, serta gagal panen kini sudah menjadi kenyataan yang kita rasakan sehari-hari di Aceh. Di tengah kegelisahan tersebut, langkah Kapolres Lhokseumawe AKBP Dr. Ahzan, S.H., S.I.K., M.S.M., M.H. yang menggalakkan gerakan “Menanam Pohon Sepanjang Masa” hadir sebagai jawaban sederhana namun sangat strategis.

Di tanah yang menerapkan syariat Islam, gerakan ini bukan hanya soal pelestarian lingkungan semata. Ia adalah soal iman, soal kebijaksanaan, dan soal masa depan anak cucu kita kelak.

Pohon: Tameng Alami dari Efek Rumah Kaca

Para ilmuwan menyebut pohon sebagai “teknologi” paling ampuh dan alami dalam melawan pemanasan global. Satu pohon yang sudah dewasa mampu menyerap puluhan kilogram karbon dioksida setiap tahunnya sekaligus menghasilkan oksigen yang kita hirup. Akarnya mengikat tanah agar tidak mudah longsor, daunnya menahan laju air hujan agar tidak meluap menjadi banjir, dan tajuknya menurunkan suhu udara kota yang semakin panas.

Sebagai kota industri dan pendidikan, Lhokseumawe sangat membutuhkan “paru-paru kota”. Tanpa pepohonan, polusi dari kendaraan dan pabrik akan semakin menyesakkan. Dengan adanya pohon, kita bisa mendinginkan kota tanpa biaya listrik sedikit pun. Murah, efektif, dan manfaatnya berkelanjutan. Menanam pohon hari ini adalah bentuk perlindungan paling nyata kita terhadap dampak buruk efek rumah kaca.

Investasi Jangka Panjang untuk Kehidupan

Menanam pohon adalah pekerjaan yang dilakukan demi masa depan. Ia adalah langkah cerdas untuk menyambung kehidupan jangka panjang.

Bayangkan 20 tahun lagi. Anak-anak kita akan berteduh di bawah rindangnya pohon yang kita tanam hari ini. Mereka akan memetik buah dari pohon yang kita rintis sekarang.

Semangat “Sepanjang Masa” yang digaungkan Kapolres Lhokseumawe AKBP Dr. Ahzan, S.H., S.I.K., M.S.M., M.H. memiliki makna mendalam. Artinya, gerakan ini tidak berhenti pada seremonial sekali saja. Menanam saat ada acara, saat wisuda, saat pernikahan, maupun saat syukuran. Setiap peristiwa bahagia kita ikat dengan menanam satu pohon. Itulah cara kita menitipkan harapan kepada bumi.

Baca Juga:  Wakapolri Buka Pekan Olahraga Polri Hari Bhayangkara ke-80, Tegaskan Semangat “Polri untuk Masyarakat”

Menanam Pohon = Ketahanan Pangan dan Ekonomi

Ketahanan pangan Aceh tidak hanya bergantung pada luasnya lahan sawah. Ia juga sangat ditentukan oleh kondisi iklim, ketersediaan air, serta keanekaragaman hayati di sekitar kita, termasuk di pekarangan rumah.

Menanam pohon yang berbuah seperti mangga, rambutan, durian, alpukat, jengkol, hingga petai memberikan manfaat ganda. Selain menghijaukan lingkungan, pohon-pohon ini akan menghasilkan buah, pakan ternak, dan nilai ekonomi. Ketika harga kebutuhan pokok melonjak, setiap keluarga masih memiliki “lumbung hidup” tepat di halaman rumahnya sendiri.

Jika setiap rumah tangga di Lhokseumawe menanam 2 jenis pohon produktif, dalam kurun waktu 5 tahun saja kita akan memiliki ratusan ribu sumber pangan baru. Inilah bentuk ketahanan pangan berbasis keluarga yang kokoh dan tidak bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Semangat Syariat: Menanam adalah Sedekah Jariyah

Aceh dikenal sebagai Serambi Mekkah. Setiap kebijakan publik seharusnya selaras dengan tujuan syariat (maqashid syariah), yaitu menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga keturunan, dan menjaga harta. Menanam pohon memenuhi kelima tujuan tersebut sekaligus.

Kita menjaga jiwa dengan tersedianya udara bersih. Kita menjaga keturunan dengan mewariskan bumi yang tetap layak huni. Kita menjaga harta dengan mencegah banjir dan erosi yang merusak rumah serta lahan pertanian.

Rasulullah SAW bersabda:

Tidaklah seorang muslim menanam pohon, lalu buahnya dimakan manusia, burung, atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, pahala dari menanam pohon tidak akan pernah terputus. Pohon yang kita tanam hari ini akan terus mengalirkan kebaikan dan pahala bagi kita, bahkan setelah kita tiada. Inilah bentuk ekonomi akhirat yang diajarkan agama kita. Maka, menanam pohon adalah ibadah, bukan sekadar kegiatan biasa.

Mengubah Tradisi: Selamatkan Bumi Lewat Pohon

Hal yang paling menarik dari inisiatif yang dipelopori AKBP Dr. Ahzan, S.H., S.I.K., M.S.M., M.H. ini adalah upaya mengubah pola pikir dan budaya masyarakat. Selama ini, jika ada acara pernikahan atau perayaan lainnya, kita sering memberikan karangan bunga yang hanya bertahan sebentar lalu layu dan dibuang. Bagaimana jika kita menggantinya dengan pemberian bibit pohon yang bermanfaat?

Baca Juga:  Rangkaian HUT Republik Indonesia Ke 80, Polres Semarang Kibarkan Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Ungaran

Setiap undangan pernikahan disertai satu bibit mangga. Setiap ucapan selamat wisuda berupa satu bibit rambutan yang ditanam di lingkungan sekolah. Setiap acara syukuran kantor diisi dengan menanam sepuluh pohon di bantaran Krueng Cunda.

Bayangkan jika hal ini menjadi tradisi. Jika dalam setahun ada 2.000 pernikahan dan masing-masing menanam 2 pohon, maka sudah ada 4.000 pohon baru. Dalam waktu 10 tahun, Lhokseumawe akan berubah total menjadi kota yang teduh, asri, dan penuh buah. Dari perayaan yang sifatnya sementara, berubah menjadi amal jariyah yang kekal.

Catatan Penting demi Keberlanjutan

Agar gerakan yang digagas Kapolres tidak berhenti hanya pada seremonial belaka, ada tiga hal pokok yang harus terus dijaga bersama:

1. Konsistensi dan Perawatan: Menanam itu mudah, namun merawatnya yang sulit. Diperlukan tim yang bertanggung jawab, jadwal rutin, serta sistem pelaporan perkembangannya.

2. Edukasi: Pilihlah jenis pohon yang cocok tumbuh di tanah pesisir. Libatkan penyuluh pertanian, perguruan tinggi, dan pihak terkait lainnya.

3. Sinergi: Kapolres bisa menjadi penggerak utama, namun gerakan ini harus digandeng bersama Pemerintah Kota, Dinas Kehutanan, pesantren, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh lapisan masyarakat. Semua harus bergerak bersama.

Pemerintah Aceh melalui Dinas Syariat Islam juga dapat memperkuat gerakan ini dengan himbauan: menjaga kelestarian bumi adalah bagian dari tugas amar ma’ruf nahi munkar.

Penutup

Aceh dijuluki Serambi Mekkah. Jika Mekkah mengajarkan tentang tauhid, maka Serambi Mekkah seharusnya juga menjadi teladan dalam merawat ciptaan Allah SWT.

Gerakan “Menanam Pohon Sepanjang Masa” yang dipelopori Kapolres Lhokseumawe AKBP Dr. Ahzan, S.H., S.I.K., M.S.M., M.H. adalah sebuah dakwah nyata. Ia mengajarkan bahwa cinta kepada tanah air diwujudkan dengan cangkul dan bibit pohon, bukan hanya dengan kata-kata semata.

Mari kita dukung bersama. Mari kita mulai menanam. Sebab pohon yang kita tanam hari ini adalah sumber nafas, sumber pangan, dan ladang pahala bagi generasi yang akan datang.

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.”

Dan tidak ada manfaat yang lebih panjang umur selain sebatang pohon yang kita tanam hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *