BIREUEN, ( DetikPost.id ) 5 September 2026 – Ini jeritan hati yang penuh luka dan kemarahan atas perlakuan yang tidak manusiawi. Adik kami, Rizki Saputri (34 tahun), warga Dusun Karieng, Desa Rancong, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, menderita tumor ganas yang tak sanggup lagi menahan pedihnya. Kami memang rakyat kecil yang sederhana, tidak mengerti rumitnya aturan, namun kami berharap sedikit belas kasih saat nyawa taruhannya.
Selama hampir seminggu ia dirawat di RSUD Dr. Fauziah Bireuen. Pada 2 September 2026, pasien dirujuk ke RSUD Dr. Zainal Abidin (RSZA) Banda Aceh dengan ambulans, ditemani suami dan anak kecil berusia 9 tahun yang ikut menderita di perjalanan. Betapa hancur hati kami saat sesampainya di sana, rujukan itu ditolak—bukan dianggap darurat, dan harus diubah menjadi rawat jalan.
Kami berjuang kembali ke RSUD Dr. Fauziah untuk menuruti saran RSZA dan meminta surat rujukan yang sesuai. Namun, balasan yang kami terima sungguh mematikan harapan: Pihak rumah sakit malah mempertahankan surat rujukan awal yang bahkan belum ditandatangani/diklem, dan menolak membuatkan yang baru.
Perlakuan ini kami anggap sangat tidak manusiawi. Adik kami menggeliat menahan sakit, kami kehabisan uang, menahan lapar, dan terpaksa tidur di masjid tanpa tempat berteduh, sementara penyakitnya makin menggerogoti tubuh.
Barulah saat emosi kami meluap, mereka baru memberikan jawaban yang kacau dan terlambat: “Bisa dirujuk rawat jalan, tapi bukan ke RSZA, melainkan ke RS Cut Mutia.

Kata-kata itu memecahkan kesabaran kami. Di hadapan orang banyak yang antre, di tengah tatapan mata, kami merobek surat rujukan yang tidak sah itu karena rasa sakit yang tak tertahankan. Kami berteriak pilu:
Pasien sakit parah tidur di masjid karena tak punya biaya! Kalian tidak peduli! Kemarin suruh ke Banda, sekarang ke Cut Mutia. Kalian mau mematikan pasien di jalan? Siapa yang tanggung jawab kalau nyawanya melayang karena ulah kalian?”

Semua ini murni kesalahan RSUD Dr. Fauziah Bireuen. Kurang teliti, asal bertindak, dan mengabaikan nasib nyawa manusia. Mereka main-main dengan surat yang belum lengkap, membiarkan kami keluarga kecil yang sedang berduka menjadi korban ketidakpedulian yang kejam.
Oleh karena itu, kami memohon dengan sangat kepada Bapak Bupati Bireuen dan Dinas Kesehatan:
Segera ambil sikap tegas dan tindak lanjut atas perlakuan yang kami alami ini. Jangan biarkan rakyat kecil yang sedang menderita diabaikan begitu saja. Kami minta keadilan dan perlindungan bagi keselamatan adik kami Rizki Saputri.
Kami bertanya kepada dunia dan pihak berwajib: Di mana rasa kemanusiaan? Siapa yang akan menjamin keselamatan kami? Jika terjadi hal buruk, siapa yang berani memikul dosa dan tanggung jawabnya?
Kisah kami adalah bukti nyata betapa rakyat kecil bisa dihancurkan bukan hanya karena penyakit, tapi oleh pelayanan yang lalai dan tidak berhati nurani.



