Ketua (DPD) APPI Aceh Utara Rimung Buloh mengamuk: Bebe Rapa Oknum Dokter RSUD Cut Meutia Datang Jam 10 Lebih, Bupati dan Dinkes Tidur Siang?

Aceh Utara ( DetikPost.id ) – Suara keras dan kemarahan meledak dari Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Pewarta Pers Indonesia (APPI) Aceh Utara, Muhammad yang akrab disapa Rimung Buloh, yang tak lagi bisa menahan amarahnya melihat pelayanan kesehatan yang sangat memalukan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Meutia. Ia menuntut Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, SE., MM, serta Kepala Dinas Kesehatan bangun dari tidur panjangnya dan segera bertindak tegas, karena ketidakdisiplinan dokter sudah keterlaluan dan menyiksa rakyat.

Masalah utamanya sangat jelas dan sudah menjadi keluhan mencekik leher masyarakat: para dokter, khususnya yang bertugas di Poli pasien kontrol ulang dan berobat jalan, datang ke rumah sakit baru pukul setengah sepuluh pagi, bahkan banyak yang lewat jam sepuluh pagi. Bukan baru mulai melayani jam segitu, TAPI BARU DATANG, baru masuk gerbang rumah sakit saat matahari sudah tinggi membakar kulit. Padahal, pasien sudah berdatangan sejak subuh, antre berdesak-desakan mulai dari balita yang menangis kesakitan, ibu hamil, hingga kakek-nenek lansia yang tubuhnya sudah lemah gemulai menunggu di bangku panjang.

Bacaan Lainnya

Saya sudah berkali-kali menegur, saya sudah pernah bicara langsung sama Direktur RSUD, Ibu Rohaya, tapi apa hasilnya? NOL BESAR! Tidak ada perubahan sedikit pun! Dokter-dokter itu masih saja santai, datangnya jam setengah sepuluh, ada yang lewat jam sepuluh pagi seolah rumah sakit itu kantor mereka sendiri, seolah rakyat yang sakit itu tidak punya hak dan waktu. Kalau sudah ditegur tapi tidak berubah, artinya apa? Artinya Direkturnya tidak punya wibawa, tidak tegas, atau memang ada dokter-dokter nakal yang merasa kebal hukum, merasa lebih hebat dari aturan negara! Ini penghinaan besar bagi warga Aceh Utara!” bentak Rimung Buloh dengan suara menggelegar.

Baca Juga:  Di Balik Tuduhan “Pemerasan”, Dugaan Cedera Saraf Pasien Jadi Fokus Gugatan: Kuasa Hukum Sebut Ini Soal Keselamatan, Bukan Uang

Ia bersumpah tidak akan diam dan akan terus menekan pihak rumah sakit sampai darahnya habis, karena yang menjadi korban adalah rakyat kecil yang tidak berdaya. “Ingat baik-baik! Rakyat itu datang ke rumah sakit bukan untuk piknik, bukan untuk jalan-jalan cari angin. Mereka datang dari jauh, dari pedalaman, dari desa-desa, dalam keadaan sakit, demam, nyeri, dan butuh pertolongan cepat. Kalau tidak sakit, mana mungkin mereka mau susah payah antre berjam-jam dari pagi buta! Tapi apa balasannya? Dokternya baru muncul jam setengah sepuluh, jam sepuluh lebih. Apakah nyawa rakyat ini murah? Apakah rasa sakit mereka tidak ada harganya di mata para dokter itu?” hardiknya penuh emosi.

Rimung Buloh juga menyerang tajam sikap Bupati yang dinilainya hanya pandai bicara manis di depan kamera. “Pak Bupati itu kalau bicara di media, katanya tegas, katanya peduli rakyat, katanya pembangun daerah. ITU CUMA OMONG KOSONG! Jangan cuma jago ngomong tegas di depan wartawan saja! Coba sekali-kali Bapak turun diam-diam ke RSUD Cut Meutia jam 7 pagi, jam 8 pagi, lihat sendiri penderitaan rakyat yang mengantre berdesak-desakan, lalu lihat jam berapa dokternya datang. Kalau memang Bapak sayang masyarakat, jangan cuma janji manis di mulut saja, mana buktinya? Jangan sampai rakyat menganggap Bapak dan jajarannya cuma pandai pidato, tapi bungkam dan tutup mata melihat penderitaan nyata di lapangan!” serangnya dengan nada menantang.

Belum cukup sampai di situ, ada luka lain yang lebih parah yang membuat darah mendidih. Banyak pasien yang sudah dijadwalkan operasi secara resmi, sudah diberitahu tanggal pastinya, sudah datang bermalam-malam dari desa terpencil, sudah menyiapkan biaya dan mental, eh tiba-tiba di suruh pulang. Alasannya selalu sama dan klise: “Tidak ada kamar kosong”. Padahal jadwal operasi itu yang buat pihak rumah sakit sendiri!

Baca Juga:  RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep Gelar Kegiatan Mutu, Tingkatkan Kompetensi dan Pelayanan Kesehatan

Ini penipuan berkedok pelayanan kesehatan! Ini perlakuan binatang! Pasien sudah siap dibedah, sudah datang jauh-jauh, tiba-tiba disuruh pulang cuma karena alasan tidak ada kamar. Apa ini main-main? Apakah nyawa manusia itu bisa dipermainkan begitu saja? Bagaimana kalau itu keluargamu, Pak Bupati? Bagaimana kalau itu anakmu, orang tuamu yang sakit? Apakah Bapak masih diam saja?!” tanyanya berapi-api.

Rimung Buloh memperingatkan dengan tegas dan keras kepada Bupati serta Kepala Dinas Kesehatan. “Jangan tutup mata dan telinga lagi! Jangan berpikir rakyat itu diam berarti terima diinjak-injak begitu saja. Kami dari APPI tidak akan pernah berhenti mengawal masalah ini sampai ada sanksi nyata, sampai ada pemecatan kalau perlu, bagi siapa saja yang melalaikan tugas. Kami minta dokter masuk jam kerja yang benar, jam 7 pagi sudah ada di tempat, tidak boleh lagi datang jam setengah sepuluh atau lewat jam sepuluh seperti kebiasaan buruk selama ini. Kalau pemimpinnya diam saja, berarti pemimpinnya juga bersalah, berarti pemimpinnya tidak sayang rakyatnya. Jangan paksa kami bawa masalah ini ke tingkat yang lebih keras lagi, sampai ke telinga Gubernur dan Menteri, supaya kalian semua sadar bahwa rakyat Aceh Utara tidak mau lagi ditipu dan dipermainkan!” pungkasnya penuh ancaman, menuntut keadilan mutlak bagi seluruh masyarakat Aceh Utara.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *