ACEH UTARA, DetikPost.id – 29 Mei 2026, Suara keras dan kemarahan kembali meledak dari Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Pewarta Pers Indonesia (APPI) Aceh Utara, Muhammad yang akrab disapa Rimung Buloh. Ia menegaskan sikap tegas dan pendiriannya yang tak tergoyahkan: sampai kapan pun pihaknya tidak akan berhenti menyoroti, mengawasi, dan menuntut perubahan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Meutia. Pengawasan ini akan terus dilakukan tanpa henti sampai pelayanan berubah total dan hak-hak masyarakat terpenuhi sepenuhnya.
Lebih jauh, Rimung Buloh menegaskan keberaniannya menghadapi siapa pun, termasuk pemerintah daerah, demi membela kebenaran. Ia pun menyindir tajam para pemimpin yang sudah menduduki jabatan tinggi, namun keberadaannya justru meresahkan, menyusahkan, dan menyakiti rakyat banyak.
Pernyataan paling tegas dan berani kembali dilontarkan Rimung Buloh terkait siapa pun yang mencoba melindungi atau memberi perlindungan kepada oknum yang berbuat salah di rumah sakit tersebut. Ia menyatakan tidak takut dan tetap akan bertindak tegas, misalnya pun ada bekingan dari pihak mana pun, karena dirinya pun memiliki latar belakang perjuangan yang tidak kalah keras.
Dengar baik-baik! Misalnya ada beking di RSUD Cut Meutia ini, entah itu dibelakangi oleh eks kombatan GAM, atau siapa pun itu, kami TETAP TIDAK TAKUT dan TETAP DABRAK! Jangan merasa kalian punya pelindung lalu bisa berbuat semena-mena. Ingat, saya Rimung Buloh juga eks kombatan GAM, saya juga pernah berjuang dan melawan Negara Indonesia demi harga diri dan hak rakyat Aceh. Jadi, jangan coba-coba menakut-nakuti kami dengan siapa pun, karena kami paham betul arti perjuangan dan kami tidak takut pada siapa pun selama di jalan kebenaran!” serangnya dengan nada menantang dan penuh wibawa.
Ia menegaskan, latar belakang perjuangannya dulu kini ia tujukan kembali sepenuhnya untuk membela rakyat. Ia pun menegur keras para petugas dan dokter yang bekerja di rumah sakit tersebut, mengingat mereka sama-sama orang Aceh, sesama darah bangsa Aceh.
Kami sama darah bangsa Aceh. Saya ini darah bangsa Aceh tulen. Kalian yang kerja di RSUD ini, kalian juga darah bangsa Aceh. Kita satu darah, satu tanah air, satu sejarah perjuangan. Tapi kenapa kalian perlakukan rakyat semena-mena? Kenapa kalian perlakukan orang Aceh sesuka hati kalian? Kenapa kalian biarkan rakyat sendiri menderita, menunggu berjam-jam, disakiti hati dan raganya oleh pelayanan yang buruk? Apakah arti persaudaraan sesama anak Aceh sudah hilang dari hati kalian? Kenapa kalian buat orang Aceh se-enak kalian saja?” tanyanya berapi-api, penuh kekecewaan mendalam terhadap sikap rekan sebangsanya.
Secara khusus, Rimung Buloh menyoroti adanya perbedaan perlakuan yang sangat mencolok yang terjadi selama ini. Ia menolak keras jika dirinya dan keluarganya saja yang diistimewakan, sementara rakyat banyak diperlakukan sembarangan. Baginya, pelayanan istimewa dan kepedulian tinggi itu wajib diberikan kepada semua orang tanpa terkecuali.
Satu hal lagi yang harus saya sampaikan dengan tegas: JANGAN HANYA KELUARGA RIMUNG BULOH AJA YANG DIPELAYANI INDAH DAN DIPEDULI DENGAN BAIK! Saya tidak mau dan saya tidak terima kalau hanya saya, anak saya, atau keluarga saya saja yang dilayani bagai raja dan diperhatikan sepenuh hati saat berobat ke sini. Kalau kepada saya dan keluarga saya kalian ramah, cepat, dan sangat peduli, maka itulah yang saya minta: SEMUA HARUS DISAMAKAN! Kepada petani, kepada nelayan, kepada orang miskin, kepada siapa pun yang datang berobat, perlakukan sama indahnya, sama pedulinya, dan sama ramahnya seperti saat kalian melayani keluarga saya. Jangan ada dua ukuran pelayanan di rumah sakit ini!” bentaknya menuntut keadilan perlakuan bagi seluruh warga.
Rimung Buloh bersumpah, tidak akan segan-segan mendabrak dan menuntut pertanggungjawaban RSUD Cut Meutia jika pelayanan tidak kunjung jelas dan berubah. Ia sangat menyoroti kebiasaan buruk jam kerja dokter yang datang sembarangan, tidak ada kedisiplinan sama sekali.
Saya tegaskan: Rimung Buloh tetap akan dabrak RSUD Cut Meutia ini jika memang pelayanan tidak jelas, jika dokter masih saja datang dan masuk kerja jam sesuka hatinya, jam setengah sepuluh atau jam sepuluh lewat seperti yang terjadi selama ini. Jangan mengira misalnya ada bekingan apa pun lalu bisa tidur enak dan main-main dengan nasib rakyat. Ingat, Rimung Buloh tetap berjuang demi rakyat Aceh. Kalau masyarakat masih dibuat sesuka hati oleh kalian, kalau rakyat masih disiksa dengan pelayanan buruk, saya Rimung Buloh berjanji akan tetap sorotin sampai kapan pun, sampai darah saya habis, sampai masalah ini tuntas!” bentaknya keras.
Masalah utama yang terus menjadi sorotan tajam adalah kedisiplinan dokter yang dinilainya sangat memalukan dan keterlaluan. Keluhan masyarakat sudah menumpuk bertahun-tahun namun tak kunjung ada perbaikan: para dokter, khususnya yang bertugas di Poli pasien kontrol ulang dan berobat jalan, baru datang ke rumah sakit saat matahari sudah tinggi. Padahal, pasien sudah berdatangan sejak subuh, antre berdesak-desakan mulai dari balita yang menangis kesakitan, ibu hamil, hingga kakek-nenek lansia yang tubuhnya sudah lemah gemulai menunggu berjam-jam.
Saya sudah berkali-kali menegur, saya sudah pernah bicara langsung sama Direktur RSUD, Ibu Rohaya, tapi apa hasilnya? NOL BESAR! Tidak ada perubahan sedikit pun! Dokter-dokter itu masih saja santai, datangnya kapan saja seolah rumah sakit itu kantor mereka sendiri, seolah rakyat yang sakit itu tidak punya hak dan waktu. Kalau sudah ditegur tapi tidak berubah, artinya apa? Artinya Direkturnya tidak punya wibawa, tidak tegas, atau memang ada dokter-dokter nakal yang merasa kebal hukum, merasa lebih hebat dari aturan negara! Ini penghinaan besar bagi warga Aceh Utara!” serangnya.
Terkait ketidaktegasan dan ketidakmampuan mengendalikan staf ini, Rimung Buloh memberikan ultimatum keras yang tak bisa ditawar lagi. Ia menuntut Bupati dan pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah tegas.
Jika Ibu Direktur Rohaya tidak tegas, jika tidak mau atau tidak mampu mengambil sikap untuk menertibkan bawahannya, jika teguran saja tidak ada gunanya dan keadaan tetap seperti ini, maka ada satu jalan satu-satunya: SEGERA DIGANTI! Kami minta Direktur Rohaya segera dicopot dan diganti dengan orang yang berani, yang punya wibawa, dan yang benar-benar mengerti tugas serta tanggung jawabnya melayani rakyat. Tidak ada tempat bagi pemimpin yang lemah dan hanya diam melihat rakyatnya menderita!” tegasnya dengan nada mengancam.
Ia kembali mengingatkan tujuan perjuangannya yang dulu dan sekarang tetap sama: demi rakyat Aceh. “Dulu saya berjuang angkat senjata demi harga diri Aceh. Sekarang saya berjuang lewat organisasi pers, lewat suara kebenaran, demi nasib rakyat Aceh. Jangan sampai kalian yang duduk nyaman di balik tembok rumah sakit ini, atau yang merasa misalnya ada bekingan ini-itu, justru menjadi musuh bagi rakyat sendiri. Ingat, Rimung Buloh tidak pernah lupa asal-usulnya, dan akan terus berjuang sampai rakyat Aceh mendapatkan hak pelayanan yang layak dan manusiawi!” tegasnya.
Selain masalah kedatangan dokter dan perbedaan perlakuan, ada luka lain yang lebih parah yang membuat darah mendidih. Banyak pasien yang sudah dijadwalkan operasi secara resmi, sudah diberitahu tanggal pastinya, sudah datang bermalam-malam dari desa terpencil, sudah menyiapkan biaya dan mental, eh tiba-tiba disuruh pulang. Alasannya selalu sama dan klise: “Tidak ada kamar kosong”. Padahal jadwal operasi itu yang buat pihak rumah sakit sendiri!
Ini penipuan berkedok pelayanan kesehatan! Ini perlakuan tidak manusiawi! Pasien sudah siap dibedah, sudah datang jauh-jauh, tiba-tiba disuruh pulang cuma karena alasan tidak ada kamar. Apa ini main-main? Apakah nyawa manusia itu bisa dipermainkan begitu saja? Bagaimana kalau itu keluargamu, Pak Bupati? Bagaimana kalau itu anakmu, orang tuamu yang sakit? Apakah Bapak masih diam saja?!” tanyanya keras.
Rimung Buloh juga menyerang tajam sikap Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, SE., MM, yang dinilainya hanya pandai bicara manis di depan kamera. “Pak Bupati itu kalau bicara di media, katanya tegas, katanya peduli rakyat, katanya pembangun daerah. ITU CUMA OMONG KOSONG! Jangan cuma jago ngomong tegas di depan wartawan saja! Coba sekali-kali Bapak turun diam-diam ke RSUD Cut Meutia jam 7 pagi, jam 8 pagi, lihat sendiri penderitaan rakyat yang mengantre berdesak-desakan, lalu lihat jam berapa dokternya datang. Kalau memang Bapak sayang masyarakat, jangan cuma janji manis di mulut saja, mana buktinya? Jangan sampai rakyat menganggap Bapak dan jajarannya cuma pandai pidato, tapi bungkam dan tutup mata melihat penderitaan nyata di lapangan!” serangnya dengan nada menantang.
Di akhir pernyataannya, Rimung Buloh kembali menegaskan janjinya yang tak akan tergoyahkan dan memberikan peringatan keras kepada seluruh jajaran pemerintah, dinas terkait, dan siapa pun yang mencoba menghalangi atau melindungi oknum yang salah.
Jangan tutup mata dan telinga lagi! Jangan berpikir misalnya ada bekingan apa pun lalu bisa berbuat semena-mena. Kami dari APPI tidak akan pernah berhenti mengawal masalah ini sampai kapan pun, sampai ada sanksi nyata, sampai ada pemecatan kalau perlu, bagi siapa saja yang melalaikan tugas. Kami minta dokter masuk jam kerja yang benar, jam 7 pagi sudah ada di tempat, tidak boleh lagi datang jam setengah sepuluh atau lewat jam sepuluh seperti kebiasaan buruk selama ini.
Ingat baik-baik: Kami tidak takut lawan siapa pun, kami tidak takut apa pun, karena kami berdiri di atas kebenaran dan kami sama-sama darah bangsa Aceh. Jangan jabatan tinggi atau merasa punya pelindung tapi meresahkan masyarakat! Kalau pemimpinnya diam saja, berarti pemimpinnya juga bersalah. Jangan paksa kami bawa masalah ini ke tingkat yang lebih keras lagi, sampai ke telinga Gubernur dan Menteri, supaya kalian semua sadar bahwa rakyat Aceh Utara tidak mau lagi ditipu dan dipermainkan!” pungkas Rimung Buloh penuh tekad dan ancaman nyata demi keadilan masyarakat.








