Aceh Tengah ( DETIK POST.ID ) – Di tengah gegap gempita pembangunan nasional, ada suara lirih dari pedalaman Aceh yang terus tenggelam dalam kebijakan setengah hati. Gilang Ken Tawar, tokoh muda Gayo yang dikenal sebagai penggerak massa intelektual, menyuarakan kegelisahan panjang tentang kondisi rakyat di tanah kelahirannya.
Negeri ini sedang bekerja keras untuk maju, tapi kami di Aceh—khususnya di wilayah Gayo—masih harus bergelut dengan tambang ilegal, birokrasi bengkok, dan proyek strategis nasional yang tidak lagi memihak rakyat,” ujar Gilang dengan nada serius.
Ia menyebut bahwa program-program dari pusat sering kali berhenti di meja-meja kepentingan lokal. “Banyak niat baik Presiden yang tidak pernah sampai ke akar. Yang sampai justru manipulasi, pemotongan, dan pengkhianatan terhadap cita-cita keadilan sosial.
Tak hanya itu, Gilang juga menyoroti pendidikan di Aceh yang gagal membentuk SDM mandiri, serta oknum pejabat yang menjadikan jabatan sebagai alat dagang, bukan pengabdian.
Kita sedang menghadapi krisis, bukan hanya ekonomi, tapi moral. Di bawah permukaan, rakyat sudah kehilangan harapan. Tapi belum ada yang benar-benar datang mendengar mereka, tanpa rombongan, tanpa kamera.
Sebagai penggerak dalam Aliansi Masyarakat Gayo (AMG), Gayo Leader’s Club (GLC), Gilang telah turun langsung ke desa-desa dan mendengar jeritan warga yang tak pernah sampai ke Jakarta.
Jika Presiden benar-benar ingin mendengar denyut nadi rakyat dari ujung negeri, mungkin inilah saat yang tepat. Suara kami tidak keras, tapi tulus. Dan kami percaya, telinga pemimpin sejati tidak pernah tuli terhadap suara yang jujur.
Dengan ketegasan dan kesantunan khas Gayo, Gilang menegaskan bahwa ini bukan soal politisasi. Ini tentang menyelamatkan masa depan generasi yang sedang dipertaruhkan diam-diam.
>>>>>>{ RIMUNG }















