Rimung Buloh Eks Kombatan GAM Angkat Bicara: Jangan Jual Nama Eks GAM! Bantuan Hanya Nama, Bukti Nyata Tiada!

ACEH UTARA ( DetikPost.id ) — Dengan suara bergetar menahan tangis dan amarah yang meluap-luap, Rimung Buloh, eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah Passe Sago Mujahidin, Mukim Tungku Dimajid, angkat bicara lantang sekaligus menyayat hati kepada para pemimpin yang kini duduk di kursi kekuasaan, baik Gubernur maupun anggota DPR.

Lihatlah nasib kami! Abang kandung saya ditangkap anggota SGI tahun 2002 — hingga hari ini hilang tanpa kabar! Tak diketahui di mana ia gugur, tak diketahui di mana kuburannya! Ia berkorban nyawa demi Aceh, namun hingga kini kami tak tahu di mana jenazahnya berada! Begitu juga puluhan rekan seperjuangan lain, nasibnya sama, hilang ditelan bumi!” ucap Rimung Buloh dengan mata berkaca-kaca.

Lalu ia membentak lantang: “Ingatlah wahai pemimpin! Ingatlah kami yang dulu berdarah-darah bersama kalian! Kenapa sekarang yang kaya dan berkuasa justru diberi segala bantuan, sedangkan kami yang menderita justru dipalingkan wajah?! Apakah di dalam perjuangan ini ada anak kandung dan anak tiri?!”

Baca Juga:  Bawa Sajam dan Rencana Tawuran, Remaja Diamankan Polisi

Suara semakin parau penuh kepedihan: “Anak-anak yatim yang kehilangan ayahnya! Janda-janda yang kehilangan suaminya! Orang tua yang kehilangan anaknya akibat perjuangan ini! Kenapa mata kalian buta dan telinga kalian tuli terhadap penderitaan kami?!”

Dan dengan tegas ia memperingatkan: “Jangan jual nama eks kombatan demi anggaran dan bantuan! Kalian sebut nama kami di atas kertas, tapi di tangan kami tak pernah sepeser pun sampai! Bantuan hanya nama, bukti nyata tidak ada! Jangan pula cari kami hanya saat kampanye, lalu setelah menang kami dijadikan kambing hitam! Kami butuh keadilan, bukan janji manis di media!”

Baca Juga:  PARKIR RSUD CUT MEUTIA DIKECAM: Ketua APPI Aceh Utara Geram, Sebut Pengelola Parkir Tak Punya Hati Nurani!

Rimung Buloh pun menambahkan dengan nada semakin pedih dan tegas:

Lihatlah kenyataan yang ada! Di perusahaan-perusahaan dan PT-PT di tanah Aceh ini, justru banyak orang luar Aceh yang bekerja! Sementara kami para eks kombatan GAM, banyak yang menganggur tak punya pekerjaan! Sebagian besar kami hanya bisa bekerja menjadi buruh bangunan, atau menjadi nelayan di laut, memeras keringat dengan tenaga sendiri demi bertahan hidup!”

Apakah darah dan air mata yang kami tumpahkan dulu tidak berharga sama sekali? Orang luar diberi kemudahan bekerja di tanah kelahiran kami sendiri, sedangkan kami pejuang kemerdekaan justru dipersulit hidup! Di mana keadilan itu berada?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *