Reposisi Kepemimpinan Perempuan dalam Politik Ekofeninisme

Foto: Hasyim Khafani, SH

Oleh : Hasyim Khafani (Peserta LK-III Badko Jatim)

Detikpost.id – Mendekonstruksi Maskulinitas Industri Demi Keadilan Tata Ruang dan Kedaulatan SDA. Industrialisasi hari ini berwatak maskulin, menaklukkan, mengebor, menebang, mengekstrak. Logika ini menciptakan 2 korban, perempuan dan bumi.

Bacaan Lainnya

Reposisi kepemimpinan perempuan bukan soal “kuota 30% di DPR”. Ini soal mengganti cara berpikir pembangunan. Politik Ekofeminisme menuntut pindah dari logika dominasi ke logika perawatan. Dari “menguasai ruang” ke “merawat ruang”.
Karena krisis tata ruang dan kedaulatan SDA tidak bisa diselesaikan oleh sistem yang menciptakan masalah itu.

Di dalam Teori Ekofeminisme – Vandana Shiva & Maria Mies. Ekofeminisme menyatakan penindasan terhadap perempuan dan penjarahan alam berasal dari logika patriarki kapitalis yang sama. Perempuan, karena posisinya sebagai pengelola rumah, air, pangan, memiliki “ethic of care” yang dibutuhkan untuk tata kelola SDA.

Baca Juga:  Patroli Polsek Sawang Cek Jembatan Baiyle, Warga Diimbau Waspada dan Batasi Muatan Kendaraan

Dilanjutkan dengan Teori Maskulinitas Hegemonik – R.W. Connell. Industri modern dibangun atas nilai maskulin hegemonik: kompetisi, kontrol, eksploitasi, anti-emosi. Nilai ini diterjemahkan ke dalam kebijakan tata ruang: zonasi untuk pabrik, bukan untuk resapan air. Izin tambang, bukan hutan adat.
Reposisi perempuan mendekonstruksi nilai ini dan menggantinya dengan nilai kolaborasi dan keberlanjutan.

Teori Keadilan Tata Ruang – John Friedmann. Ruang bukan netral. Ruang adalah produk politik. Siapa yang duduk di meja perencanaan, dia yang menentukan siapa dapat air, siapa dapat polusi, siapa tergusur. Ketiadaan perempuan di perencanaan kota/industri membuat kebijakan tata ruang buta gender dan buta ekologi.

Arah Reposisi Ekofeminis Perempuan.
1. Tata Ruang. Ruang dibagi menjadi Zona Industri vs Zona Permukiman. Sungai jadi tempat pembuangan. Ruang dilihat sebagai ekosistem. Ada “Zona Kehidupan”, hutan kota, resapan, ruang publik aman perempuan.
2. Kedaulatan SDA. SDA dengan komoditas ekspor. Air, tanah, mineral dijual ke investor. SDA dengan harta bersama al-musytarakat. Prioritaskan pangan, air, energi rakyat dulu.
3. Gaya Kepemimpinan. Top-down, teknokratik, berbasis data kapital. Partisipatif, berbasis data + narasi + kearifan lokal. Menggabungkan lab dan dapur.

Baca Juga:  Pemimpin Perempuan dan Transformasi Industri

Maskulinitas industri membuat kita kaya hari ini dan miskin 20 tahun lagi. Kepemimpinan perempuan ekofeminis membuat kita cukup hari ini dan lestari untuk anak cucu.

Reposisi ini bukan “perempuan menggantikan laki-laki”. Tetapi “nilai perawatan menggantikan nilai penaklukan”.

Karena keadilan tata ruang dan kedaulatan SDA hanya lahir saat meja keputusan tidak lagi penuh oleh satu jenis logika.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *