Membaca Pesan dari Banyaknya Istri: Poligami Muzakir Manaf dan Produksi Kuasa atas Tubuh Perempuan.

Banda aceh ( DETIK POST.ID ) Yulindawati SH, Aktivis Perempuan. Dalam politik, tindakan personal pejabat publik selalu memproduksi pesan sosial. Banyaknya istri yang dimiliki seorang pejabat bukan peristiwa netral; ia adalah bahasa kekuasaan. Poligami yang dilakukan Muzakir Manaf tidak dapat dibaca sekadar sebagai praktik pernikahan, melainkan sebagai representasi relasi kuasa yang timpang, di mana tubuh perempuan direduksi menjadi wilayah kendali elite laki-laki.

 

Ini bukan tuduhan moral personal. Ini pembacaan politik.

 

 Poligami sebagai Bahasa Kekuasaan

 

Kekuasaan tidak selalu bekerja melalui senjata atau hukum. Ia bekerja melalui simbol, normalisasi, dan legitimasi sosial. Dalam konteks ini, menikahi banyak perempuan adalah penegasan dominasi maskulin: menunjukkan siapa yang memiliki kuasa ekonomi, sosial, dan politik untuk “memiliki” lebih dari satu tubuh perempuan secara sah.

 

Pesan yang sampai ke publik bukan soal cinta, melainkan soal kapasitas menguasai.

 

 Perempuan sebagai Subjek yang Direduksi

 

Dalam relasi poligami pejabat, persoalan utamanya bukan angka istri, tetapi posisi perempuan di dalam relasi tersebut. Ketika pernikahan berlangsung dalam konteks ketimpangan ekstrem—status, ekonomi, pengaruh—maka relasi itu kehilangan kesetaraan moral

 

Perempuan tidak lagi hadir sebagai subjek yang setara, melainkan direduksi menjadi:

Baca Juga:  JWI Aceh Timur Minta Perusahaan Leasing Beri Keringanan Korban Banjir

 

– alat legitimasi status,

– penanda maskulinitas kuasa,

– dan objek relasi seksual yang dilegalkan oleh struktur sosial.

 

Dalam kerangka teori kritis, ini adalah bentuk eksploitasi simbolik atas tubuh perempuan—bukan dalam arti hukum pidana, tetapi dalam makna sosiologis dan etis.

 

 Budak Seks” sebagai Metafora Kekuasaan

 

Istilah budak seks dalam kritik ini bukan tuduhan literal, melainkan metafora struktural untuk menggambarkan relasi timpang di mana:

 

– kehendak perempuan berada dalam bayang-bayang kuasa,

– persetujuan berlangsung dalam tekanan struktural,

– dan tubuh perempuan diposisikan sebagai akses yang dapat “dimiliki” oleh elite.

 

Ketika negara dan masyarakat membiarkan praktik ini tanpa kritik, yang terjadi adalah normalisasi objektifikasi: perempuan dianggap wajar untuk dikoleksi secara sah oleh laki-laki berkuasa.

 

 Agama dan Legalitas sebagai Instrumen

 

Agama dan hukum sering dijadikan tameng moral. Namun ketika keduanya dipakai untuk membenarkan relasi yang tidak setara, maka yang terjadi adalah instrumentalisasi nilai. Kesalehan direduksi menjadi izin administratif, dan keadilan digantikan oleh formalitas.

 

Agama kehilangan ruh etisnya, hukum kehilangan nuraninya.

Baca Juga:  Harga Emas Terus Meroket : Pertanda Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja

 

 Muzakir Manaf dan Pesan Politik yang Dikirimkan*

 

Sebagai tokoh publik, Muzakir Manaf mengirim pesan yang jelas:

bahwa kekuasaan laki-laki dapat mengatur relasi intim tanpa perlu pertanggungjawaban moral publik. Ini adalah pesan berbahaya, karena mengajarkan bahwa kepemimpinan tidak perlu disertai pengendalian diri.

 

Dalam etika kepemimpinan, kemampuan menahan diri jauh lebih penting daripada kemampuan memiliki.

 

 Dampak Sosial: Patriarki yang Diperkuat

 

Ketika praktik ini dibiarkan:

 

– perempuan muda diajari untuk tunduk pada status,

– laki-laki diajari bahwa kuasa memberi hak atas tubuh,

– dan masyarakat diajari untuk diam atas ketimpangan.

 

Diam di sini bukan kebudayaan. Diam adalah kekerasan simbolik.

 

Poligami pejabat publik bukan isu privat. Ia adalah peristiwa politik atas tubuh perempuan. Membaca banyaknya istri Muzakir Manaf berarti membaca bagaimana kekuasaan bekerja: menghalalkan dominasi, meromantisasi ketimpangan, dan membungkam kritik dengan dalih agama dan budaya.

 

Jika perempuan terus diposisikan sebagai objek sah kekuasaan, maka yang sedang kita saksikan bukan tradisi, melainkan kemunduran etika publik.

 

>>>>>{ Rimung }

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *