ACEH TIMUR ( DETIK POST.ID ) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Aceh Timur kini berada di bawah sorotan tajam setelah banyak laporan dari masyarakat terkait dugaan praktik pengambilan keuntungan oleh pengelola dapur MBG, terutama di tengah bulan suci Ramadan.
Banyak keluhan diterima terkait kualitas makanan yang diberikan kepada siswa SD, SMP, hingga balita. Indikasi menunjukkan pengelola diduga hanya mengutamakan kepentingan pribadi untuk meraup keuntungan, dengan makanan yang diberikan dinilai tidak layak dan kurang bergizi.
Senada dengan itu, salah satu siswa yang ditemui mengaku bosan karena sering mendapatkan roti telur yang mudah ditemukan di kios-kios kecil. Hal ini mengangkat pertanyaan besar terkait standarisasi gizi dan penggunaan anggaran yang dialokasikan untuk program tersebut.
Kasus yang paling menjadi perhatian terjadi di dapur MBG Desa Matang Selemak, Kecamatan Nurussalam. Masyarakat mengklaim bahwa makanan MBG yang diberikan untuk tiga hari hanya memiliki nilai sekitar 12.000 rupiah, yang dinilai sangat tidak wajar.
Salah seorang ibu dari anak sekolah menyampaikan kepada awak media bahwa kualitas makanan MBG untuk tiga hari di desa tersebut jauh dari harapan,” ujar salah satu sumber masyarakat.
Masyarakat juga mengemukakan bahwa praktik ini tidak sesuai dengan nilai-nilai bulan suci Ramadan serta syariat Islam yang berlaku di Aceh. “Jangan cari kekayaan dengan jatah makanan bergizi anak sekolah, apalagi ini bulan suci Ramadan. Sebenarnya tidak wajar membagikan MBG dengan kualitas seperti ini di bulan suci, karena di Aceh ada syariat Islam,” ucap salah satu warga.
Akibatnya, masyarakat mengajukan permintaan resmi kepada Bupati Aceh Timur agar segera mencabut izin operasional dapur MBG yang ada di Desa Matang Selemak.
Penulis>{ Rimung }















