Oleh: Hasyim Khafani, SH (Peserta LK-III Jatim)
Detikpost.id – Dinamika Transisi Energi Global dan Polarisasi Global South dengan Global North. Transisi energi yang katanya “hijau untuk semua” hari ini justru melahirkan bentuk penjajahan baru.
Dulu kolonialisme ngambil rempah, kayu, emas. Sekarang Imperialisme Ekologis Baru ngambil litium, kobalt, nikel, tembaga, dan “ruang karbon”.
Global North mengatakan “Kurangi emisi”. Sedangkan Global South menjawab “Boleh, tapi siapa yang bayar pabrik, tambang, dan kehilangan lahan kami?”
Hasilnya Selatan jadi tempat ekstraksi dan tempat pembuangan. Utara jadi tempat teknologi dan keuntungan.
Teori Ekologi Dunia-Sistem – Jason W. Moore, Kapitalisme tidak hanya mengeksploitasi buruh, tapi juga “ekstraksi alam murah”. Moore sebut Cheap Nature. Transisi energi – siklus baru cari “alam murah” berikutnya: ladang surya di Sahara, tambang nikel di Indonesia, angin di Patagonia.
Teori Imperialisme Ekologis – Alf Hornborg, Negara kaya mempertahankan gaya hidupnya dengan “mengimpor jejak ekologis” dari negara miskin. Panel surya, EV, dan data center di Utara ditopang tambang dan limbah di Selatan.
Teori Ekstraktivisme Hijau – Eduardo Gudynas, Green Extractivism; negara Selatan tetap mengekspor bahan mentah, tapi sekarang dengan label “hijau”. Yang berubah cuma komoditasnya, dari minyak ke nikel. Relasi kuasanya tetap sama.
Teori Keadilan Transisi – Just Transition, Transisi harus adil, mulai dari pekerja, komunitas, dan negara terdampak tidak boleh dikorbankan. Tanpa transfer teknologi & pembiayaan, transisi – utang baru bagi Selatan.
Dinamika Polarisasi Hari Ini. Aspek, Global North, Global South.
1. Peran. Desain teknologi, paten, standar ESG, pasar. Penyedia bahan mentah, lokasi proyek, penyerap risiko.
2. Narasi. “Net Zero 2050″ & “Carbon Border Tax”. “Right to Develop” & “Climate Debt”.
3. Risiko. Inflasi energi, krisis pasokan. Degradasi lahan, konflik tambang, utang hijau.
Contoh; Uni Eropa mau impor baterai bebas karbon, tapi sekaligus berlakukan CBAM. Indonesia disuruh cepat hilirisasi, tapi investasi teknologi masih dikunci paten.
Jika transisi energi hanya memindahkan titik tambang dari Timur Tengah ke Halmahera tanpa memindahkan kekuasaan teknologi, maka itu bukan transisi. Itu hanya imperialisme dengan logo daun.
Solusinya bukan menolak transisi. Solusinya ialah Sovereignty over Green Value Chain. Selatan harus naik kelas dari “penambang” jadi “pabrikan” dan “pemilik paten”.
Karena bumi yang sama tidak bisa diselamatkan dengan relasi kuasa yang tidak adil.


