BANTUL – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-130 Tahun Anggaran 2026 yang dilaksanakan Kodim 0729/Bantul terus berjalan di Dusun Jaten, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul. Memasuki hari ke-14 pada Senin (26/10/2026), pembangunan infrastruktur dilakukan secara bertahap dengan melibatkan personel Satgas TNI dan masyarakat setempat.
Sejak resmi dibuka pada 13 Oktober 2026, kegiatan TMMD ini berfokus pada pembangunan infrastruktur pedesaan yang diharapkan dapat menunjang mobilitas dan aktivitas masyarakat, terutama warga yang beraktivitas di kawasan pertanian. Di sisi lain, program tersebut juga menjadi ruang untuk memperkuat gotong royong serta kemanunggalan TNI dengan rakyat.
Sasaran fisik yang ditetapkan dalam program ini meliputi pengerasan jalan sepanjang 200 meter, pengecoran jalan sepanjang 290 meter, pembangunan talud sepanjang 800 meter, gorong-gorong sepanjang 2,7 meter, serta rehabilitasi lima rumah tidak layak huni (RTLH). Selain pembangunan fisik, TMMD juga mencakup kegiatan nonfisik berupa edukasi wawasan kebangsaan, keamanan dan ketertiban masyarakat, pemberdayaan ekonomi, kesehatan dan ketahanan keluarga, pencegahan penyalahgunaan NAPZA, serta moderasi beragama.
Dari pembukaan hingga persiapan konstruksi
Pada hari pertama, Selasa (13/10/2026), TMMD Reguler ke-130 resmi dibuka sebagai langkah awal pelaksanaan program pembangunan desa. Kegiatan ini menandai dimulainya kerja bersama antara Satgas TNI dan masyarakat untuk mendukung pembangunan infrastruktur sekaligus memperkuat hubungan antara prajurit dan warga.
Memasuki hari kedua, Rabu (14/10/2026), personel Satgas mulai mengerjakan talud dan saluran irigasi di wilayah sasaran. Pekerjaan tersebut menjadi bagian penting dalam penataan infrastruktur di sekitar jalan dan kawasan pertanian.
Pada hari ketiga, Kamis (15/10/2026), kegiatan berlanjut pada persiapan fondasi jalan serta penurunan material untuk pembangunan gorong-gorong. Persiapan ini menjadi bagian dari tahapan konstruksi yang membutuhkan penataan material dan pengerjaan secara berurutan sebelum pembangunan dilanjutkan ke bagian berikutnya.
Aktivitas pembangunan semakin terlihat pada hari keempat, Jumat (16/10/2026). Personel TNI bersama warga memecah dan menyusun batu untuk pembangunan talud di Dusun Jaten. Batu-batu yang disiapkan kemudian ditata sesuai kebutuhan konstruksi, sementara material lainnya digunakan untuk mendukung kelanjutan pekerjaan.
Tahapan awal tersebut menjadi fondasi bagi pekerjaan yang terus berlanjut pada hari-hari berikutnya. Penyiapan bahan, pengangkutan material, dan penyusunan batu dilakukan secara bertahap agar pembangunan dapat berjalan sesuai kebutuhan di lapangan.
Gotong royong menggerakkan pembangunan
Pada hari kelima, Sabtu (17/10/2026), kebersamaan personel Satgas dan warga tetap menjadi bagian utama kegiatan pembangunan. Gotong royong terlihat dalam pembagian tugas, mulai dari penyiapan material hingga pengerjaan talud dan infrastruktur pendukung.
Kegiatan berlanjut pada Minggu (18/10/2026), saat personel TNI dan masyarakat kembali memindahkan serta menyusun batu untuk talud di kawasan persawahan. Batu-batu berukuran besar dipindahkan secara manual maupun menggunakan gerobak dorong agar dapat dibawa menuju titik pengerjaan.
Material berupa batu, pasir, dan semen, serta peralatan seperti ember dan gerobak dorong, disiapkan untuk mendukung pekerjaan. Personel dan warga berbagi tugas, mulai dari mengangkut bahan hingga menata batu pada sisi jalan.
Pada hari keenam tersebut, pekerjaan jalan juga terus berlangsung. Mesin pengaduk beton atau molen digunakan untuk mencampur pasir, batu, semen, dan bahan pendukung lainnya sebagai persiapan pengecoran. Proses ini memperlihatkan bahwa pembangunan tidak hanya bergantung pada pengerjaan konstruksi, tetapi juga pada kesiapan material dan kelancaran distribusinya.
Memasuki hari ketujuh, Senin (19/10/2026), fokus pembangunan tetap mencakup talud, saluran beton, dan jalan. Pengerjaan berbagai bagian tersebut berjalan sebagai satu rangkaian pembangunan infrastruktur yang saling mendukung, terutama untuk menunjang kondisi jalan dan aliran air di kawasan sasaran.
Keterlibatan warga dalam setiap tahapan menjadi unsur penting selama pekerjaan berlangsung. Mereka bekerja berdampingan dengan personel TNI untuk membantu kelancaran pembangunan, sekaligus memperlihatkan semangat kebersamaan yang menjadi salah satu tujuan pelaksanaan TMMD.
Susunan talud dan pengecoran jalan mulai terlihat
Pada hari kedelapan, Selasa (20/10/2026), pembangunan berlanjut dari penyusunan batu hingga pengerjaan permukaan beton. Penataan talud dilakukan secara bertahap, sementara pekerjaan jalan terus dipersiapkan dan dilanjutkan sesuai kondisi di lapangan.
Keesokan harinya, Rabu (21/10/2026), pengerasan jalan dan penyusunan talud masih menjadi bagian dari pekerjaan Satgas TMMD bersama masyarakat. Penataan batu pada sisi jalan dilakukan untuk membentuk struktur talud, sedangkan pekerjaan jalan diarahkan untuk meningkatkan kualitas akses di wilayah pedesaan tersebut.
Memasuki hari kesepuluh, Kamis (22/10/2026), kegiatan mencakup pengerjaan talud, gorong-gorong, dan pengecoran jalan. Penyiapan material menjadi bagian penting dalam mendukung pekerjaan. Pasir, batu, dan semen disiapkan untuk kemudian dicampur menggunakan molen.
Adukan yang telah selesai dicampur didistribusikan menuju titik pengerjaan menggunakan gerobak dorong dan alat bantu lainnya. Proses tersebut membutuhkan pembagian tugas agar penyiapan bahan, pengangkutan, serta pengerjaan konstruksi dapat berlangsung secara berkesinambungan.
Pada bagian talud, batu-batu disusun untuk membentuk struktur penahan di sisi jalan. Pekerjaan gorong-gorong dan saluran air juga menjadi bagian dari penataan infrastruktur agar dapat saling menunjang dengan badan jalan yang dibangun.
Pengerjaan jalan beton dilakukan melalui sejumlah tahapan, mulai dari menyiapkan bahan, mencampur adukan, memindahkan material, hingga meratakan beton pada bagian jalan yang dikerjakan. Seluruh proses dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan konstruksi di lapangan.
Talud diperkuat, jalan beton membentang di kawasan pertanian
Pada Jumat (23/10/2026), atau hari kesebelas, pengerjaan talud, gorong-gorong, dan jalan beton terus dilanjutkan. Di lokasi, personel TNI dan warga menata batu pada bagian talud yang masih membutuhkan penyelesaian. Celah di antara batu diisi dengan adukan semen untuk membantu memperkuat susunan.
Papan penyangga dipasang pada bagian tertentu untuk membantu menjaga konstruksi selama pengerjaan. Sejumlah pekerja menangani penataan batu, sementara yang lain menyiapkan adukan dari molen dan mengangkut material menggunakan gerobak dorong, ember, serta alat bantu lainnya.
Pekerjaan tersebut berkaitan dengan penataan gorong-gorong dan saluran air di sekitar lokasi. Talud diharapkan membantu menjaga kestabilan tanah dan badan jalan, sementara saluran air mendukung kelancaran aliran air di kawasan yang berdekatan dengan lahan pertanian.
Pada saat yang sama, pengecoran jalan beton terus dilakukan. Permukaan jalan yang telah dicor mulai membentang di antara lahan pertanian, meskipun pekerjaan di bagian ujung ruas jalan masih berlanjut. Penyiapan material dan peralatan tetap dilakukan untuk mendukung kelanjutan pengecoran.
Jalur tersebut diharapkan dapat mempermudah mobilitas masyarakat, khususnya petani yang menggunakan akses jalan untuk menuju lahan dan mengangkut hasil panen. Karena itu, pembangunan jalan dan talud menjadi bagian yang saling berkaitan dalam mendukung kebutuhan infrastruktur masyarakat setempat.
Pada Sabtu (24/10/2026), hari kedua belas, personel Satgas dan warga kembali melanjutkan persiapan material, pemindahan batu berukuran besar, serta penyusunan talud. Batu ditata secara bertahap, kemudian celah di antara susunannya diisi adukan semen. Di sejumlah bagian, papan penyangga turut digunakan untuk membantu proses pengerjaan.
Pengecoran jalan juga terus dilanjutkan dengan bantuan mesin molen dan peralatan kerja lainnya. Sebagian permukaan jalan beton telah terbentuk, sementara material tetap disiapkan untuk menyelesaikan bagian yang masih dikerjakan. Jalan yang membentang di antara lahan pertanian menjadi salah satu perkembangan yang terlihat dari pekerjaan fisik TMMD.
Keterlibatan masyarakat tetap tampak dalam berbagai tahapan, mulai dari memindahkan batu, menyiapkan campuran material, mengangkut adukan, hingga mendukung pengerjaan talud dan jalan.
Kebersamaan berlanjut di luar lokasi pembangunan
Selain bekerja bersama pada siang hari, hubungan personel Satgas TMMD dengan masyarakat juga terjalin melalui interaksi sehari-hari. Pada Sabtu malam (24/10/2026), setelah aktivitas pembangunan, sejumlah personel TNI berkumpul bersama warga di pos kamling dan teras bangunan di lingkungan Dusun Jaten.
Mereka duduk bersama, berbincang santai, bertukar cerita, dan menikmati hidangan sederhana. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk melepas lelah sekaligus mempererat komunikasi antara prajurit dan masyarakat.
Kebersamaan semacam ini melengkapi kegiatan pembangunan fisik yang dilakukan di lokasi TMMD. Hubungan yang terjalin melalui komunikasi sehari-hari turut menjaga kedekatan Satgas dengan warga selama program berlangsung.
Pada Minggu (25/10/2026), memasuki hari ketiga belas, pengerjaan talud kembali menjadi salah satu fokus kegiatan. Satgas Kodim 0729/Bantul bersama warga memperkuat pembangunan melalui gotong royong. Pekerjaan dilanjutkan secara bertahap dengan keterlibatan masyarakat dalam mendukung pengerjaan di lapangan.
Memasuki Senin (26/10/2026), hari keempat belas pelaksanaan TMMD, pembangunan talud dan pengecoran jalan masih berlanjut. Kegiatan ini menjadi bagian dari kesinambungan pekerjaan yang telah dilakukan sejak program dibuka dua pekan sebelumnya.
Pembangunan dilaksanakan secara bertahap dengan dukungan personel TNI, ketersediaan material, dan keterlibatan warga. Setiap tahapan diarahkan untuk mendukung penyelesaian sasaran fisik sesuai kebutuhan di lokasi.
Membangun infrastruktur sekaligus memperkuat kemanunggalan
TMMD Reguler ke-130 Kodim 0729/Bantul dijadwalkan berlangsung hingga 11 November 2026. Dengan demikian, pelaksanaan selama 14 hari pertama merupakan bagian dari rangkaian program yang masih berjalan.
Perkembangan pekerjaan di Dusun Jaten menunjukkan proses pembangunan yang dilakukan secara berkesinambungan. Penyiapan fondasi dan material pada tahap awal dilanjutkan dengan penyusunan batu, penguatan talud, penataan saluran air dan gorong-gorong, serta pengecoran jalan beton.
Di sepanjang proses tersebut, gotong royong menjadi unsur yang terus terlihat. Personel Satgas dan warga berbagi tugas dalam mengerjakan sasaran fisik, sementara interaksi di luar waktu kerja turut memperkuat hubungan di antara mereka.
Melalui pembangunan infrastruktur dan kegiatan yang melibatkan masyarakat, TMMD diharapkan dapat mendukung akses serta aktivitas warga di kawasan pedesaan. Program ini sekaligus menjadi wujud kerja bersama TNI dan rakyat dalam mendorong pembangunan desa.
Dua pekan pelaksanaan menjadi bagian dari perjalanan menuju penyelesaian sasaran TMMD. Pekerjaan yang terus berlanjut di Dusun Jaten mencerminkan bahwa pembangunan desa membutuhkan proses, kerja sama, dan keterlibatan berbagai pihak agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat.



