Aceh Timur ( DETIK POST.ID ) – Ketua Jajaran Wartawan Indonesia (JWI) Aceh Timur, Hendrika Saputra, menyoroti keras kondisi Aceh yang kaya raya namun rakyatnya masih hidup dalam kemiskinan. Menurutnya, sejak Aceh berkompromi dengan Indonesia, kekayaan alam Aceh justru lebih banyak dinikmati pemerintah pusat, perusahaan asing, dan elit lokal, sementara rakyat hanya mendapat sisa tulang.
Gas Arun di Lhokseumawe, emas, hutan, dan sawit seharusnya membuat rakyat Aceh sejahtera. Tapi kenyataannya, triliunan rupiah masuk ke Jakarta dan ke kantong perusahaan asing. Rakyat Aceh cuma jadi penonton, bahkan harus merantau untuk mencari makan,” tegas Hendrika, Jumat (2/10/2025).
Hendrika menilai, sejarah panjang Aceh hanya menunjukkan pola eksploitasi tanpa kesejahteraan. Masa Orde Baru, kekayaan gas Arun disedot habis untuk kas negara. Pasca MoU Helsinki 2005, rakyat berharap ada perubahan lewat Dana Otonomi Khusus (Otsus). Namun, harapan itu pupus karena dana triliunan rupiah tersebut justru banyak habis untuk elit politik dan kontraktor.
Dana Otsus itu sudah jadi ATM politik. Yang menikmati adalah elit lokal, bukan rakyat. Nelayan tetap susah mencari ikan, petani kalah dengan sawit dan tambang, pemuda Aceh tetap terpaksa merantau. Ini fakta pahit,” tambahnya.
Menurut Hendrika, kondisi ini menunjukkan Aceh hanya dijadikan sapi perah. “Dagingnya dimakan pusat dan elit rakus, rakyat Aceh cuma dapat tulang,” ujarnya dengan nada geram.
Ia mendesak agar pemerintah, baik pusat maupun daerah, benar-benar mengembalikan kekayaan Aceh untuk kesejahteraan rakyat. “Kalau terus begini, Aceh tidak akan pernah maju. Rakyat selalu miskin di atas tanah yang kaya,” pungkas Hendrika.
penulis>>{ RIMUNG }















