ACEH TENGAH, Detikpost.id – Gilang Ken Tawar — Ketua Aliansi Masyarakat Gayo (AMG)
Belakangan ini, saya mencium gelagat yang kurang sehat di tengah dinamika sosial masyarakat terkait isu pelepasan lahan kepada PT. Tusam Hutani Lestari (THL). Ada indikasi kuat bahwa sekelompok oknum tengah mencoba menggiring opini publik dan menghasut masyarakat agar melakukan aksi-aksi yang berpotensi memicu konflik horizontal. Menurut analisa saya, ini adalah jebakan besar yang justru akan merugikan masyarakat sendiri.
Saya ingin menegaskan bahwa pendapat ini saya sampaikan secara pribadi, sebagai bentuk kepedulian terhadap keamanan sosial dan kepentingan jangka panjang masyarakat. Ini bukan tentang membela perusahaan, tapi tentang melihat persoalan secara objektif dan tidak terbawa arus provokasi yang tidak berdasar.
Sejak kehadiran satuan kerja Kopassus di Aceh Tengah, praktik illegal logging dan illegal mining yang selama ini merajalela mulai terhenti. Ini seharusnya disyukuri karena berdampak langsung terhadap pelestarian lingkungan dan mencegah kerusakan hutan yang menjadi sumber kehidupan bersama. Namun bagi sebagian oknum, ini ibarat kiamat kecil. Mereka kehilangan ruang gerak dan mencoba memanfaatkan situasi untuk memancing kericuhan baru.
Yang lebih mengkhawatirkan, saya melihat ada individu-individu tertentu yang begitu ngotot menanyakan kapan aksi akan dilakukan, padahal secara posisi dan peran mereka tidak relevan untuk menyuarakan hal itu. Ini menimbulkan pertanyaan besar: siapa sebenarnya yang diuntungkan jika masyarakat bergerak tanpa pemahaman yang utuh.
Saya mengajak seluruh masyarakat untuk lebih mendalami persoalan ini. Jangan sampai kita dijadikan alat oleh pihak-pihak yang hanya peduli pada kepentingan pribadinya. Apalagi jika itu dilakukan dengan mengorbankan ketenangan dan kesatuan masyarakat yang selama ini terjaga.
Solusi terhadap persoalan lahan, kehutanan, dan agraria harus ditempuh melalui jalur hukum, musyawarah, dan pendekatan yang bermartabat. Jangan biarkan emosi dan provokasi menjadi kompas kita dalam menentukan sikap.
Masyarakat harus waspada, bijak, dan tetap memegang prinsip bahwa keamanan, persatuan, dan keberlanjutan jauh lebih penting dari kepentingan sesaat yang belum tentu berpihak pada kebaikan bersama.;
>>>>>>{ RIMUNG }















