Simulakrom Wawuk versus Feminisme (LGBT) (2-habis) Kisah (Cinta) Heroik dari Soekarno sampai Joko Widodo

Oleh : Jayanto Arus Adi

Jika kita sepakat gua garba, rahim (wawuk) adalah pintu peradaban, maka tabir yang membuka terang dunia adalah dari sana (wawuk). Kang Sosro berkali-kali geleng-geleng takkala buntu untuk mengungkapkan narasi yang tidak mengkaitkan dengan (simulakrom) wawuk. Adakah diksi yang lebih tepat untuk menabalkan etika agar tidak terperosok pada terminologi porno, jorok, dan aib.

Bacaan Lainnya

‘’Astaga naga, sudahlah kalau inti, esensinya itu (wawuk) ya kita sampaikan apa adanya. Dunia ini (kita sendiri) mengalami fase dari gelap menjadi terang, sebaliknya dari terang menjadi gelap, ya dari sini (wawuk). Harta, tahta, dan wanita adalah trisula peradaban. Jadi ibu peradaban memang dari sana,’’urai Kang Sosro.

Menurut Kang Sosro, kita ini sering hipokrif, munafik jadinya tidak maju-maju. ‘’Saya tidak setuju guru menampar muridnya, dianggap menghajar. Tentara menembak KKB, dianggap membunuh, melanggar hak asasi. Lhaah murid zaman sekarang jadi kurang ajar, karena apa, karena itu (guru takut). Papua tidak aman, karena apa, ya karena itu (KKB tidak boleh dibunuh, tapi mereka membunuh). Apa-apaan ini. Apa nggak keblinger,’’beber Kang Sosro.

Kali ini Kang Sosro satu pandangan dengan Cak Rizal. ‘’Yok opo’o, kita ini dibodohi, masak ada penjahat diajak kompromi. KKB itu penjahat. main tembak, bunuh orang tidak bersalah, lha kok nggak boleh ditindak. Iki yok opo?’’gerutu Cak Rizal. ‘’Saya tidak setuju, KKB ya sikat, murid kurang ajar ya distrap (dihukum). Jangan ikut-ikutan londo ireng, budaya kita itu tepo sliro. Gak, gak, gak modern, gak patheken. Gak melok Amerika, gak patheken,’’ujarnya dengan sikap emosi.

Apalagi, kata Rizal juga, Amerika dan antek-anteknya selalu pakai standar ganda. ‘’Lihat itu, mereka membantai rakyat Palestina, main gempur Irak sak karep-karepe. Menangkap Presiden Venezuela ngacak-acak kedaulatan negara lain. Ayo ngomong, koe iku sopo. Ayo Pak Prabowo jangan takut,’’tegas Rizal setengah memprovokasi.

Baca Juga:  Prestasi Cermelang, Polda Kalteng Sabet 2 Penghargaan Bergengsi di Awarding Day Kreasi Polri

Pujo diem-diem memperhatikan ulah Kang Sosro, juga Cak Rizal. ‘’Iya, Amerika ya begitu. Tapi kita tidak boleh terbawa emosi. Ibarat tinju mereka kelas berat, kita masih kelas bulu. Melawan tanpa mengukur diri sama saja bunuh diri,’’papar Pujo datar. Pujo, melanjutkan, yang terpenting dari kita perlu paham, pada akhirnya kekuasaan, sekuat apa pun akan lepas dari genggaman.

Saat perbincangan mulai mereda setelah Pujo memberikan pandangan, tiba-tiba Jiteng, carik desa tergopoh-gopoh menghampir seraya menyampaikan info penting. ‘’Ngapunten-ngapunten izin, izin lihat TV, ya lihat TV. Pak Kapolri, eeh Pak Listyo Sigit Prabowo, mantan Kapolri ditangkap, ya ditangkap, jadi tersangka penyadapan Presiden. Ini lagi konferensi Pers di TV,’’begitu kata Jiteng setengah panik.

Merespon info Jiteng, Cak Rizal santai memberi komentar. ‘’Wis ben ae, yok opo’o Listyo Sigit ditangkap, ditangkap ya, ditahan nggak. Berani polisi nahan bekas Kapolrinya,’’kata Rizal. Meski kaget, Rizal mencoba menahan diri dan menutupi kekagetannya itu. Apalagi ikhwal penangkapan Listyo Sigit Prabowo sudah viral juga. Media sosial sudah riuh seputar berita bombastis ini.

Wirunggan yang semula santai, nginformal saja dilanjutkan lebih serius di di Padepokan Kang Sosro. ‘’Santai, santai, tenang, tenang saja. Ini namanya hukum dunia. Sekuat apa pun kekuasaan lepas. Perjalanan Listyo Sigit Prabowo (LSP) jadi Kapolri terlama, itu fakta, dan war biasa. Sebenarnya Pak Prabowo mikir, mikir beliau itu, mungkin takut juga mencopot, makanya jadi Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Tapi saya kaget juga sekarang jadi TSK. Komplit wis, LSP, KSP, terus TSK,’’begitu seloroh Kang Sosro.

Rizal sempat ancang-ancang mau angkat bicara, tetapi ditahan. Dalam hati,’’Ancene bedebah, Listyo Sigit Prabowo jan-jane sakno. Yo iki simulakrom, kita perlu paham di balik semua ini ada dalang. Itu yang mesti dituntaskan. Pak Prabowo, Pak Prabowo ayo jangan setengah-setengah usut dalangnya, jangan cuman kambing congek yang jadi tumbal,’’seru Rizal.

Baca Juga:  Polda Metro Jaya Gelar Apel Kesiapan, TNI-Polri Kedepankan Pelayanan Humanis dalam Pengamanan Aksi

Ahh simulakrum, saya teringat ucapan Presiden ke-7 Joko Widodo ketika itu,’’Andai Gibran biar tetap jadi pengusaha martabak, dan membesarkan Cilipari. Tidak usah terjun ke politik, apalagi pejabat publik. Dia akan jadi legenda. Waktu itu narasi tentang Pak Jokowi berbeda, dengan Mega, SBY dan pendahulunya Pak Harto. Anak-anak Jokowi tidak ada yang terjun di politik, tetap berbisnis. Lhaah ternyata bukan tidak ada, waktu belum.

Sekarang kayak pepatah usang, nasi sudah menjadi bubur. Sayang, seribu sayang, malang tidak bisa ditolak, karena ambisi, simulakrom (wawuk) juga beliau tergoda, seperti pepatah (maaf) kesrimpet jarik. Andai beliau istiqomah Gibran tetap jualan martak, dan membesarkan Ciliparie alangkah eloknya. Jadi walikota masih oke, dan itu sudah ‘war biasa! Ibarat ayam dia (Gibran) sudah bertelur emas.

‘’(Maaf) mengapa dia dipaksa bertelur dua kali (jadi wapres). Pak Jokowi, Ibu Iriana, mohon maaf, ngapunten saya berandai-andai saja. Saya kasihan Pada Mas Gibran, astaganaga Pak Wapres………..,’’bibir saya kelu, tak bisa lagi berkata apa-apa. Benar juga simulakrum (wawuk). Tabik.

Penulis, Wartawan Seniior, Ahli Pers Dewan Pers. Selain aktif menjadi Ahli Pers dipercaya menjadi Ketua SMSI Jawa Tengah juga Wakil Ketua SMSI Pusat. Iniisiator MOJO (Mobil Journalis Indonesia) dan menjadi Ketua Umum. Selain itu ikut berkontribusi di Satu Pena, organisasi penulis yang diketuai Denny JA. Alumni FIB Undip dan sedang menempuh program doktoral di Unsoed Purwokerjo, konsentrasi Komunikasi Agribisnis.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *