Oknum Nanda, Bidan Bersalin RSUD Cut Meutia Dituding Melecehkan Wartawan Lewat Komentar TikTok

Aceh Utara ( DetikPost.id ) – Nama Nanda, seorang bidan yang bertugas di ruang bersalin RSUD Cut Meutia, Lhokseumawe, menjadi sorotan publik setelah komentarnya di media sosial TikTok memicu kemarahan luas. Ucapan yang dituliskannya dianggap melecehkan profesi wartawan, meragukan keakuratan berita, serta bernada ancaman, sehingga menuai kecaman dari kalangan jurnalis maupun masyarakat umum.

Bacaan Lainnya

Komentar itu muncul di kolom unggahan bertuliskan “rimung buloh”, di mana akun bernama Bd,nanda s,keb menuliskan kalimat dalam bahasa daerah:

“Menye long ayah wa rimung buloh nyo yg payah kuproses ilee, jipeek berita Hana hantom jelas, pegawai ro wartawan, berita hantom akurat, memang rakyat, Segolom tapeek berita tatanyong ilee pu alasan telat getamong.”

Secara makna, tulisan itu berisi tuduhan bahwa berita yang disampaikan wartawan dianggap “tidak jelas” dan “tidak akurat”. Lebih jauh lagi, Nanda secara tegas menyatakan keinginan untuk “memproses” pihak wartawan, seolah menganggap pemberitaan yang disampaikan adalah hal yang keliru atau salah. Kalimat tersebut langsung menyebar cepat dan menjadi pembicaraan hangat warga, karena dinilai sangat tidak pantas keluar dari mulut seorang tenaga kesehatan yang bekerja di fasilitas pelayanan publik.

Baca Juga:  Rimung Buloh: Misalnya Ada Beking Eks Kombatan GAM, Kami Tetap Dabrak RSUD Cut Meutia! Kami Sama Darah Bangsa Aceh, Kenapa Perlakukan Rakyat Semena-mena?

Kalangan pers di Lhokseumawe bereaksi keras. Pernyataan Nanda dianggap bukan sekadar pendapat biasa, melainkan bentuk penghinaan serius terhadap kerja jurnalistik. Wartawan bekerja berdasarkan prinsip kebenaran, keseimbangan, dan memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui informasi. Jika ada hal yang dirasa kurang tepat atau tidak sesuai fakta, jalur penyelesaian yang benar adalah melalui konfirmasi, klarifikasi, atau mekanisme hukum yang berlaku — bukan dengan kata-kata kasar, merendahkan, dan bernada ancaman seperti yang tertulis di komentar tersebut.

Sebagai bidan dan pegawai rumah sakit milik rakyat, Nanda seharusnya menjadi teladan dalam beretika dan berkomunikasi. Sikapnya ini justru memberikan kesan tertutup, tidak mau dikritisi, dan berusaha membungkam kebebasan pers. Ini sangat merugikan citra RSUD Cut Meutia,” ujar perwakilan organisasi wartawan setempat.

Masyarakat pun ikut bereaksi. Banyak warga yang berkomentar di media sosial, menuntut penjelasan resmi dari manajemen RSUD Cut Meutia dan meminta agar oknum yang bersangkutan diberikan pembinaan atau tindakan tegas. Kekhawatiran muncul, sikap seperti itu bisa merusak hubungan antara instansi kesehatan, media, dan masyarakat yang seharusnya saling mendukung demi terciptanya pelayanan yang transparan dan berkualitas.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak manajemen RSUD Cut Meutia maupun dari Nanda selaku oknum yang bersangkutan. Warga berharap kasus ini segera ditindaklanjuti agar kejadian serupa tidak terulang, serta nama baik rumah sakit tetap terjaga sebagai tempat pelayanan yang terbuka, ramah, dan melayani kepentingan masyarakat luas.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *