Khairul alias Dekgam, Eks Kombatan GAM di Aceh Timur: “20 Tahun Damai Aceh Hanya Ilusi

Aceh Timur ( DETIK POST.ID) –  Dua dekade sudah sejak penandatanganan MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005 yang mengakhiri konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Indonesia. Namun, bagi Khairul alias Dekgam, salah satu mantan kombatan GAM di Aceh Timur, perdamaian yang selama ini dibanggakan justru terasa seperti ilusi yang dibangun di atas luka lama.

 

Dua puluh tahun kita bilang damai, tapi yang terasa hanya sunyi. Rakyat diam bukan karena bahagia, tapi lelah menunggu janji yang tak pernah tiba,” ungkap Khairul dengan nada getir.

Baca Juga:  Rimung Buloh Ungkap Bobrok Dana Gampong di Paya Bakong: "Pihak kecamatan Tutup Mata Dan Tutup Mulut.

 

Ia mengingatkan bahwa rakyat Aceh telah mengorbankan darah, nyawa, dan masa depan demi cita-cita kemerdekaan dan kesejahteraan. Namun, yang terjadi setelah damai justru membuat anak-anak muda meninggalkan tanah kelahiran untuk mencari nafkah di luar daerah.

Tanah kita kaya, tapi rakyatnya miskin. Bendera damai berkibar, tapi di perut rakyat hanya angin,” sindirnya.

 

Khairul juga menyampaikan kritik tajam kepada para pemegang amanah yang dinilai gagal mewujudkan janji kesejahteraan bagi rakyat Aceh.

Baca Juga:  Polda Jateng Terima Kunjungan Tim Peneliti SKSG Kampus UI, Bahas Penerapan E-Policing

 

Wahai yang memikul amanah, jangan khianati lagi darah dan air mata ini. Bangkitkan Aceh, atau biarkan sejarah menulis bahwa damai ini hanyalah mimpi panjang yang tak pernah jadi nyata,” tegasnya.

 

Dengan bahasa yang lebih sarkastis, Khairul menutup pernyataannya:

 

Tanyo ka meuteng paneng… dikheun le Menteri Pertahanan, GAM apa karya payah pajoh boh janeng?” — sebuah ungkapan Aceh yang berarti mempertanyakan apakah perjuangan panjang itu hanya berakhir dengan sia-sia.;

 

penulis>>{ RIMUNG }

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *