KECAMAN KERAS ATAS TINDAKAN REPRESIF OKNUM TNI TERHADAP KONVOI KEMANUSIAAN MASYARAKAT ACEH DI JEMBATAN KRUNG MANE

ACEH TIMUR ( DETIK POST.ID ) – Nyakli Maop, Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), penggiat media sosial, sekaligus anggota Tim Satgasus BAI (Badan Advokasi Indonesia) bagian Investigasi Wilayah Aceh, mengecam keras aksi brutal yang dilakukan oleh oknum TNI bersenjata lengkap terhadap warga yang sedang menjalankan misi kemanusiaan untuk korban banjir.

 

Peristiwa ini bermula saat ratusan mobil dan sepeda motor (kereta) yang membawa bantuan dari keluarga besar GAM bergerak menuju wilayah terdampak banjir bandang dan longsor di Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Sigli. Konvoi yang memasang bendera Bulan Bintang sebagai simbol identitas tersebut dihadang secara paksa dan mengalami tindakan kekerasan oleh oknum aparat di Jembatan Krung Mane.

 

Terkait insiden tersebut, Nyakli Maop menyatakan sikap sebagai berikut:

 

Ratusan kendaraan masyarakat bergerak murni untuk misi kemanusiaan mengantar bantuan makanan bagi saudara mereka yang tertimpa musibah. Sangat tidak beradab ketika niat baik ini dihentikan dengan kekerasan dan pemukulan oleh oknum TNI hanya karena persoalan bendera. Di tengah bencana, seharusnya aparat membantu kelancaran distribusi bantuan, bukan mempertontonkan arogansi senjata.

 

Nyakli Maop menambakah Mengungkit Luka Lama dan Trauma Rakyat Aceh

Tindakan represif oknum TNI di Jembatan Krung Mane telah membuka kembali luka lama masyarakat Aceh.

Baca Juga:  Kapolres Boyolali Pimpin Langsung Penanganan Bus Terbakar di Tol KM 480 B Dukuh Mudal

 

Kami mengingatkan kembali rentetan kasus kekerasan yang melibatkan oknum TNI baru-baru ini, seperti pembunuhan Imam Masykur, pembunuhan Toke Rental, agen mobil, hingga pembunuhan eks kombatan GAM Peureulak. Pola kekerasan ini harus segera dihentikan Jagan Sampai rakyat Aceh

 

Menjaga Marwah Perdamaian MoU Helsinki namun tidak terealisasi, walupun nyakli pernah meminta presiden Prabowo Subianto segera memberikan kejelasan hukum terkait dengan Qanun bendera bulan bintang

Setelah 21 tahun perdamaian yang dimediasi oleh Martti Ahtisaari di Finlandia, rakyat Aceh berhak menikmati kehidupan yang demokratis. Jika pihak militer tidak puas dengan perdamaian dan terus menekan rakyat sipil dengan senjata, jangan salahkan jika rakyat merasa terdesak untuk kembali mempertahankan hak-haknya. Kami mencintai damai, namun damai harus dibarengi dengan keadilan dan penghormatan.

 

Nyakli juga menekan agar pihak TNI wajib mengutamakan Landasan Berbangsa yang Beradab, apalagi Aceh udah damai setelah peperangan

Kami mendesak Panglima TNI untuk segera menindak tegas oknum yang terlibat dalam kekerasan di Krung Mane. Tanamkan kembali nilai Pancasila, khususnya sila kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Stop Gaya Militeristik di Bumi Aceh! karena itu gaya masa DOM DI BUMI ACEH.;

 

penulis>>{ rimung }

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *