ACEH ( DETIK POST.ID ) – Penjualan gas LPG 3 kilogram di Aceh dilaporkan mengalami lonjakan harga yang tidak wajar, terutama di kawasan Matang hingga Bireuen, di tengah masyarakat yang sedang menghadapi musibah banjir.
Dari informasi lapangan, gas subsidi yang seharusnya dijual dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp18.000 per tabung, ternyata dijual dengan harga tidak wajar Rp25.000 di pangkalan. Kondisi menjadi lebih parah ketika oknum menggunakan becak untuk mendistribusikan, sehingga harga melambung menjadi Rp65.000 hingga Rp70.000 ketika sampai ke warga.
Pangkalan seperti itu harus dicabut izin,” ujar Ketua DPD APPI Aceh Utara, Muhammad yang akrab disapa Rimung Buloh.
Perilaku penimbunan dan permainan harga oleh oknum tersebut dinilai sangat meresahkan dan tidak berperikemanusiaan, terutama di tengah situasi darurat. Warga mengkritik Pertamina seolah “tutup mata” terhadap praktik yang merugikan, dan mendesak aparat penegak hukum (APH) untuk mengusut tuntas dugaan kejahatan dalam distribusi LPG.
Warga berharap pemerintah daerah, Pertamina, dan kepolisian segera turun tangan guna mengembalikan stabilitas harga dan memastikan distribusi gas tepat sasaran. Rimung Buloh juga menyatakan tidak segan melaporkan pelaku ke pihak berwenang sebagai pembela rakyat miskin.
Selain itu, teks mengingatkan bahwa sejak 1 Maret 2023 melalui Kebijakan Transformasi Pendistribusian LPG 3 Kg, gas ini hanya ditujukan untuk masyarakat miskin, usaha mikro, nelayan sasaran, dan petani sasaran. Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang kedapatan menggunakan atau membeli gas subsidi akan dikenai sanksi, dan disarankan untuk beralih ke gas non-subsidi seperti Bright Gas.
Penulis>>{ kaperwil }















