Peran BI dalam Pengembangan Ekonomi Syari’ah

Foto Ilustrasi: Kantor Bank Indonesia

Oleh: Hasyim Khafani, SH (Peserta LK-III Jatim)

Detikpost.id – Dari Regulator Moneter Menjadi Arsitek Ekonomi Berkeadilan. Selama ini BI dipahami sebagai “penjaga inflasi dan kurs”. Tapi di era ketidakadilan ekonomi dan krisis iklim, BI punya peran lebih besar, yaitu menjadi arsitek sistem keuangan yang beretika.

Ekonomi Syariah bukan sekadar “bank tanpa bunga”. Ini sistem yang menekankan keadilan, kemaslahatan, dan keberlanjutan. Tugas BI membuat sistem konvensional tunduk pada nilai-nilai itu, bukan sebaliknya. Jika BI berhasil, maka ekonomi syariah tidak lagi jadi “ceruk pasar”. Dia jadi arus utama keadilan ekonomi.

Teori Keuangan Inklusif Islam – IMF. IMF menyebut Islamic Finance bisa mengurangi ketimpangan karena berbasis aset riil dan risk sharing.
BI menerjemahkannya lewat “Indonesia Islamic Economic Masterplan 2019-2024”, penguatan halal value chain, keuangan sosial, dan UMKM.

Baca Juga:  Kanit Binmas Polsek Gapura Turun Tanam Jagung, Dukung Ketahanan Pangan

Teori Central Bank Digital Currency Syariah – World Bank dan IRTI, Bank sentral masa depan harus menerbitkan CBDC yang patuh syariah, transparan, berbasis aset, bebas riba dan gharar. BI lewat proyek Garuda dan BI-RTGS syariah sedang mengarah ke sana.

Perspektif Islam; Keadilan dan Anti Riba. “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. BI sebagai otoritas moneter wajib memastikan tidak ada “riba terselubung” dalam kebijakan likuiditas dan SBIS.

Peran Strategis BI Saat Ini
1. Regulator & Standarisasi. Penerbitan PBI Syariah, Roadmap IKNB Syariah, Fatwa DSN-MUI jadi acuan Industri punya kepastian hukum. Bank syariah tidak “meniru konvensional”.
2. ⁠Pengembang Ekosistem Kembangkan Halal Value Chain, BI Syariah Board, KNEKS, Sertifikasi Halal Menghubungkan keuangan syariah dengan UMKM dan industri halal riil.
3. ⁠Stabilitas dan Inklusi. Operasi Moneter Syariah OMS, SBIS, PUAS. Literasi dan inklusi keuangan syariah 16.1% 2023 Sistem lebih stabil, tidak berbasis utang. Akses keuangannya lebih merata

Baca Juga: 

Tantangan dan Rekomendasi
1. Fragmentasi. Aturan syariah masih tumpang tindih antara OJK, BI, Kemenkeu. Perlu “Single Regulator Syariah”.
2. ⁠Shallow Syariah. Produk masih banyak “bay’ inah” dan “murabahah bergulir”. BI harus dorong ke “musharakah & mudharabah produktif”.
3. ⁠Green Syariah. Integrasikan prinsip ESG + Maqashid ke dalam kebijakan moneter hijau BI.

Peran BI bukan hanya mencetak uang, tapi mencetak keadilan. Ekonomi syariah akan naik kelas saat BI berani menjadikan “kemaslahatan” sebagai indikator sukses selain inflasi dan pertumbuhan.

Karena di akhir, bank sentral yang hebat bukan yang paling banyak cadangannya, tapi yang paling banyak menyelamatkan rakyat dari jerat utang dan ketidakadilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *