Aceh Timur ( DETIK POST.ID ) – Ketua Jajaran Wartawan Indonesia (JWI) Aceh Timur, Hendrika Saputra A.Md, melontarkan kritik keras terhadap sikap pemerintah dalam menangani bencana banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ia menilai negara terkesan lebih sibuk membangun pencitraan ketimbang memastikan pemulihan nyata bagi para korban.
Publik sekarang hanya disuguhi janji-janji. Kita ingin bukti, bukan slogan. Jangan sampai bencana besar ini hanya dijawab dengan foto-foto blusukan, dua dus Indomie, telur, dan minyak goreng, lalu dianggap selesai,” tegas Hendrika, Jumat.
Menurutnya, jika bantuan pemerintah memang nyata dan merata, tentu patut diapresiasi. Namun fakta di lapangan menunjukkan masih banyak korban banjir yang belum tersentuh bantuan layak, sementara pejabat justru tampil di depan kamera seolah semua persoalan telah tertangani.
Hendrika juga menyoroti sikap pemerintah yang dinilai enggan menerima bantuan kemanusiaan dari luar negeri. Ia menyebut alasan tersebut sebagai bentuk gengsi yang tidak berempati terhadap penderitaan rakyat.
Ketika rakyat kehilangan rumah, mata pencaharian, bahkan nyawa, negara tidak boleh canggung menerima bantuan dari luar. Ini bukan soal harga diri pemerintah, ini soal keselamatan dan kemanusiaan,” ujarnya dengan nada keras.
Ia menegaskan, seluruh masyarakat terdampak banjir berhak mendapatkan bantuan sesuai janji pemerintah, tanpa tebang pilih dan tanpa pencitraan. Negara, kata dia, harus hadir secara nyata, bukan hanya saat kamera menyala.
Rakyat tidak hidup dari janji dan dokumentasi. Jika yang diberikan hanya simbolik, maka kekecewaan publik adalah konsekuensi yang tidak bisa dihindari,” tambahnya.
Ketua JWI Aceh Timur itu mengingatkan agar penderitaan korban banjir tidak dijadikan komoditas politik maupun alat pencitraan kekuasaan. Ia meminta pemerintah fokus pada pemulihan menyeluruh, mulai dari kebutuhan dasar, kesehatan, hingga rehabilitasi pascabencana.
Jangan jadikan bencana sebagai panggung. Rakyat butuh kerja nyata, bukan sandiwara kemanusiaan,” tutup Hendrika.
penulis>>{ RIMUNG }















