Kombatan GAM Kutuk PT Parama Agro Sejahtera: Sawit Jadi Biang Banjir, Buka lahan baru  Saat Luka Banjir Hidrometeorologi Rakyat Aceh Timur Belum Kering

Aceh Timur ( DETIK POST.ID ) – Di tengah penderitaan masyarakat Aceh yang belum pulih dari bencana banjir hidrometeorologi, kejahatan lingkungan justru kembali dipertontonkan secara terang-terangan. Hutan digunduli, alat berat dikerahkan, dan kebun kelapa sawit diperluas tanpa nurani. Kondisi ini memicu kecaman keras dari masyarakat hingga Muhammad Arif alias Perlêng Ubuet, eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM)

 

Di Kecamatan Rantau Peureulak, tepatnya Desa Seumanah Jaya, PT Parama Agro Sejahtera diduga melakukan perluasan perkebunan sawit secara membabi-buta dengan mengerahkan excavator, meski Aceh Timur baru saja dilanda banjir besar yang menghancurkan rumah, mata pencaharian, dan harapan warg.

 

Masuknya alat berat ke kawasan hutan yang selama ini menjadi benteng alami penahan air dinilai sebagai bentuk kejahatan lingkungan terstruktur. Hutan ditebang, tanah dibuka, dan aliran air kehilangan penyangga. Warga bahkan menuding aktivitas perusahaan telah melampaui batas Hak Guna Usaha (HGU).

 

Akibatnya, banjir kini datang tanpa aba-aba. Dusun Sumedang menjadi saksi bagaimana air menggenangi permukiman meski hujan belum turun deras.

 

Ini bukan takdir. Ini bukan kehendak alam. Ini banjir karena hutan dibunuh dan sawit dipaksakan. Kami selalu jadi korban kerakusan,” ujar seorang warga Dusun Sumedang, Sabtu (20/12/2025).

 

Warga menilai sawit telah menjadi akar masalah banjir di Aceh Timur. Perluasan kebun dilakukan secara ugal-ugalan, diduga mengabaikan AMDAL, dan memaksakan pembangunan di atas tanah yang masih rapuh akibat bencana sebelumnya.

 

Kecaman keras juga datang dari eks kombatan GAM, yang menilai negara telah gagal melindungi rakyat dan alam Aceh.

 

Belum kering air mata korban banjir, excavator sudah bekerja. Ini kebiadaban. Menanam sawit di atas hutan adalah kejahatan. Jika negara terus diam, maka negara sedang memihak perusak Aceh,” tegas Muhammad Arif alias Perlêng Ubuet.

 

Ia menegaskan, sawit bukan kemajuan, melainkan sumber bencana jika dibangun dengan menghancurkan hutan dan menutup mata terhadap keselamatan rakyat.

 

Ironisnya, Aceh yang dikenal sebagai salah satu kawasan hutan tropis terpenting di Indonesia kini terus dikorbankan atas nama investasi. Hutan habis, sawit tumbuh, banjir datang, rakyat sengsara. Pola ini terus berulang tanpa penindakan tegas.

 

Masyarakat Desa Seumanah Jaya bersama eks kombatan GAM menuntut dengan tegas:

Hentikan seluruh aktivitas perluasan kebun sawit PT Parama Agro Sejahtera

Audit total izin, batas HGU, dan dokumen AMDAL

Proses hukum perusahaan jika terbukti merusak lingkungan

Pulihkan hutan sebagai benteng hidup masyarakat

Mereka memperingatkan, jika negara terus membiarkan hutan Aceh dibunuh dan sawit dijadikan raja, maka banjir akan menjadi bencana tahunan, dan penderitaan rakyat akan diwariskan dari generasi ke generasi.

 

Jika hutan dimusnahkan dan sawit dipertahankan, maka jangan salahkan rakyat bila alam suatu hari membalas dengan murka,” pungkas warga.

 

penulis>>{ RIMUNG }

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *