Aceh utara – detikpost.id – PT pema global energi (PGE) mengaku sebagai perusahaan energi daerah yang berkomitmen pada standar kelas dunia serta menerapkan tata kelola perusahaan yang baik demi mencapai keunggulan operasional. Padahal janji manis itu bertolak belakang dengan kenyataan yang terlihat jelas di mata masyarakat sekitar.
Sudah satu bulan penuh lampu di pos palang pintu lapangan produksi cluster-1 padam dan tak ada tanda-tanda perbaikan sama sekali. Tempat itu kini gelap gulita, seakan tak ada yang peduli dari pihak manajemen. Pihak perusahaan diduga sengaja mengabaikan keselamatan serta kelayakan di akses keluar-masuk yang dipakai banyak orang ini.
Lebih mengkhawatirkan lagi, di pintu itu terpasang pagar besi tebal serta palang pipa besi sebesar batang pohon kelapa — semuanya berwarna gelap dan nyaris tak terlihat saat malam tiba. Kondisi ini sangat membahayakan pengendara roda dua maupun roda empat yang melintas. Warga yang lewat setiap malam merasa cemas luar biasa, takut menabrak benda keras itu karena tak terlihat dalam kegelapan.
Awak media yang dikenal sebagai rimung buloh telah mendatangi pos tersebut dan menanyakan langsung kepada petugas satpam:
Pak, mengapa lampu tak dinyalakan? Ini berbahaya, takut ada kendaraan menabrak sampai luka-luka.”
Jawaban petugas satpam di cluster-1 justru melempar tanggung jawab ke pihak lain:
Lampu itu sudah mati sejak lama sampai sekarang belum diperbaiki. Lebih baik tanya langsung ke petugas di cluster-2, kami tidak berwenang menjawab hal itu.”
Ini sungguh ironi yang sangat memalukan. Bukan perusahaan kecil yang kekurangan anggaran — ini pt besar yang mengaku punya komitmen kelas dunia. Mengapa sekadar mengganti atau memperbaiki lampu penerangan saja tak sanggup dilakukan? Apakah anggaran hanya habis untuk urusan lain, sementara keselamatan warga diabaikan begitu saja?
Apakah memang sengaja dibiarkan rusak sampai terjadi musibah besar, ada yang terluka parah bahkan meninggal dunia, baru pihak perusahaan mau bergerak memperbaikinya?
Jika ada warga yang menabrak, terluka, bahkan kehilangan nyawa di tempat gelap itu — siapa yang akan bertanggung jawab sepenuhnya? Jalan itu dipakai masyarakat umum, bukan jalan milik pribadi perusahaan. Jangan tunggu darah menetes dan air mata warga mengalir sebelum perbaikan segera dilakukan. Tegakkan komitmen yang diucapkan, jangan hanya jadi janji kosong belaka.

