Malam Meugang Gelap Gulita, Praktisi Hukum Riki Iswandi Soroti Kinerja PLN yang Dinilai Abaikan Perasaan Rakyat Aceh

ACEH ( DetikPost.id ) Masyarakat Aceh kembali dibuat kecewa oleh pelayanan listrik dari Perusahaan Listrik Negara atau PLN yang dinilai tidak peka terhadap momentum penting masyarakat Aceh menjelang Hari Raya Iduladha.

Pasalnya, di tengah suasana malam meugang—tradisi sakral masyarakat Aceh dalam menyambut hari besar keagamaan—pemadaman listrik kembali terjadi di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut memicu kekecewaan warga, karena malam meugang merupakan waktu dimana masyarakat berbondong-bondong membeli, memasak, dan mengolah daging bersama keluarga.

Padahal, beberapa hari sebelumnya PLN sempat merilis pernyataan terkait gangguan listrik yang terjadi hampir di seluruh wilayah Sumatera serta menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat. Tidak lama kemudian, pihak PLN kembali mengabarkan bahwa kondisi kelistrikan telah normal dan stabil.

Kabar tersebut sempat membuat masyarakat Aceh merasa lega dan kembali percaya bahwa pelayanan listrik akan membaik, terlebih menjelang momentum besar seperti Hari Raya Iduladha. Namun harapan itu kembali pupus ketika listrik kembali padam tepat pada malam mak meugang, malam yang sangat dihormati dan menjadi bagian dari adat serta budaya masyarakat Aceh.

Praktisi hukum, Riki Iswandi, sangat menyayangkan terjadinya pemadaman tersebut. Menurutnya, PLN seharusnya memiliki perhatian khusus terhadap hari-hari penting yang berkaitan langsung dengan tradisi dan kebutuhan masyarakat.

Baca Juga:  Jaga Stabilitas Pasokan dan Harga Beras di Kota Pekalongan, Polres Pekalongan Kota Gelar Gerakan Pangan Murah (GPM)

Meugang bukan sekadar tradisi biasa bagi masyarakat Aceh. Ini adalah budaya turun-temurun yang memiliki nilai kebersamaan, kekeluargaan, dan religius. Sangat disayangkan ketika di malam penting seperti ini masyarakat justru harus merasakan gelap akibat pemadaman listrik,” ujarnya.

Ia juga menilai kejadian tersebut semakin menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan listrik negara. Menurutnya, masyarakat membutuhkan kepastian pelayanan, terlebih setelah sebelumnya PLN menyatakan kondisi listrik sudah kembali normal.

Kalau memang sudah dinyatakan normal, mengapa masih terjadi pemadaman di malam yang sangat penting bagi rakyat Aceh? Ini menunjukkan kurangnya kesiapan dan perhatian terhadap kebutuhan masyarakat,” tambahnya.

Riki berharap kejadian serupa tidak terus berulang, terutama pada momentum-momentum besar keagamaan dan adat di Aceh. Ia meminta PLN agar melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan dan distribusi listrik agar masyarakat tidak terus menjadi korban kekecewaan.

Di tengah suasana masyarakat yang sedang mempersiapkan perayaan Iduladha dengan penuh suka cita, pemadaman listrik di malam meugang justru meninggalkan rasa kecewa dan pertanyaan besar tentang kualitas pelayanan perusahaan negara kepada rakyatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *